Jumat, 07 April 2017

Cerpen: Cinderella

Setiap hari yang terus aku lalui masih sama yaitu melewati matahari yang masih malu bersinar di pagi dan menghabiskan matahari yang tak lagi sungkan memberi teriknya bersama bangunan ungu tempat aku menghabiskan masa perkuliahan S1 hingga selesai dan waktu mengantarkan Aku,tepatnya Upik Abu atau yang terkenal Cinderella menempuh jalan yang tak terduga tak tersangka. Tepatnya seperti dongengnya Cinderella yang mempunyai angan bertemu sang pangeran, tapi tidak denganku yang punya angan yang tidak mungkin bagiku akan meraihnya tapi bagiku Cinderella saja bisa bertemu pangeran kenapa aku tak mungkin meraih anganku tadi.
Lamunanku membuatku tak menghiraukan bunyi air yang berteriak-riak bahwa penampungnya sudah tak mampu memuatnya lagi dan busa-busa pembersih yang behamburan ingin segera aku namun itulah aku terlalu hanyut dengan sosok seseorang yang dalam ruangan ungu bertemankan dengan mahasiswa dan papan tulis sedang mengukir-ukir materi-materi dari mulutnya.Pada saat itu yang aku angankan adalah bagaimana jika aku ada disana,berada ditengah manusia berintelektual yang haus akan ilmu.
Itulah aku Cinderella tanpa peri menginjakkan langkahku tanpa memakai sepatu kaca ke dunia baru ke kampus berwarna biru bukan berwarna ungu tempatku kembali untuk bekerja dan mengabdikan diri, yaitu salah satu ruang perkuliahan di Universitas di jalan Gunung Kelua yang latarnya biru bertuliskan "E1".
"Hmmm,andai aku yang berdiri disana"gumamku sambil menatap dosen didalam ruangan tersebut.
Kalimat itu seperti terpatri dalam benak serta fikiranku untuk melanjutkan pendidikan lagi ke tingkat master  program walau aku tahu tidaklah mudah menjalaninya karena magister program tidaklah indah seperti pelangi yang menarik perhatian dan banyak peminatnya, bagiku hanya orang pilihan dan tentunya bagi orang berfinansial yang bisa menggapainya,
"Kamu yakin mau meneruskan pendidikanmu,Neng?" tanya sosok wanita kepadaku.
"Iya,aku yakin Mak,aku mau juga menjadi seperti Pak Nugraha"ucapku singkat.
"Abah,tidak akan melarangmu untuk kuliah Nak"Ucap lelaki yang sudah sepuh.
"Tapi bagaimana kita membayar biaya kuliahnya yang tidak murah itu"Keluh Mamakku.
"Tenanglah,apapun akan aku lakukan, aku tak pernah menyesal menghabiskan uang demi Ilmu yang bermanfaat" sahut Abahku dengan ketulusan senyum.
Kata bijak penutup dari Abahku membuatku merinding dan berlalu meninggalkan Mamak dan Abahku yang kembali bertukar kata tanpa aku ketahui lagi apa yang mereka berdua cakapkan. Air mata menetes setiap ucapan itu tadi terngiang dibenakku.Hingga anganku tadi semakin menjadi untuk meneruskan pendidikan walau aku tahu aku tak seperti Putri di Negeri Dongeng yang selalu dikelilingi keajaiban, aku akan menemui banyak kerikil penyandung dalam berproses.Tapi, aku percaya ungkapan "hasil tak akan mengkhianati proses", "tidak ada perjuangan yang sia-sia", serta ungkapan paling utama yaitu "Man Jadda Wajjada, Man Shabara Zhafira,Man Zahro Yas'ud". Aku hanya punya tekad dan keseriusan dalam menjalani perkuliahan ini dan Tuhan tidak akan memberi ujian diluar kemampuan hambanya.
Hari pun berlalu, segala kelengkapan berkas sudah aku penuhi dan juga mekanisme dari soal tes masuk hingga wawancara.Hanya satu menggetarkan hatiku hingga hari ini saat wawancara dengan salah satu orang besar menurutku di Magister Bahasa Inggris  yang mewawancarai menggunakan bahasa inggris yang membuatku harus menyinkronkan otak dan mulutku.
"Why do you want to continue master program?" Tanya beliau.
"Because i want to make my parents are proud with me" jawabku dengan sedikit kelu.
"And how you pay your cost during lecture that it's no cheap?" Ucap Beliau lagi.
"I will do everything for every cost"
Wawancara pun diakhiri dengan jawaban apa adanya dariku yang bersifat personal karena intinya menanyakan keadaan orang tua serta hal-hal yang menjurus ke kehidupan personal yang terlalu menghentakkan jiwaku lewat beberapa pertanyaan tersebut. Waktu terus berjalan hingga membuatku jemu dan patah arang,apakah aku tidak lolos untuk memasuki perkuliahan di Magister FKIP tersebut hingga suatu hari kuputuskan untuk menghubungi pihak staf magister bahasa inggris lewat handphone.
"Selamat siang mbak,apakah calon mahasiswa bernama Nengsih lulus dari hasil tes kemarin?"tanyaku
"Owh, Mbak Nengsih dinyatakan lulus sebenarnya ada surat pemberitahuan kami kirimkan tapi alamat Mbak yang tidak lengkap.Ambil suratnya disini Mbak ya" Jawab Perempuan diseberang sana.
"Iya,terima kasih mbak,surat akan saya ambil segera"
Teleponku segara aku tutup dan aku tersenyum dengan dibarengi munculnya harapan yang sempat padam oleh kejemuan, hingga kabar aku diterima ini kusampaikan pada Abah dan Mamak,serta beberapa orang di kampus ungu juga mengetahuinya dan tak hentinya memberi dukungan.
"Selamat ya, Insya Allah ada saja jalan untukmu"ucap Pak Rendra padaku.
"Iya pak, terima kasih,saya akan berusaha walau ini masih diawal"jawabku
"Iya, yakinlah pintu rezeki akan datang darimana saja dan jika memang rezeki bisa menjadi dosen disini saat sudah selesai" jawab atasanku menguatkanku.
Penyemangatku bukan hanya orang tuaku tapi Cinderella sepertiku juga terdapat sisi kehidupan romantisme seperti sosok pangeran bagi putri negeri dongeng. Tak kusangka dia juga menempuh pendidikan magisternya namun walaupun bersama di Universitas Mulawarman jalan Gunung Kelua, tapi dia di gedung berwarna putih yaitu Magister Pertanian sedangkan aku gedung berwarna biru dan terbentur waktu perkuliahan yang berbeda.
"Neng,aku juga bentar lagi kuliah di Pertanian di Jalan Gunung Kelua, kamu tau kan itu dimana?" Tanya Dimas padaku.
"Apa,kamu juga kuliah di S2 Pertanian?" Tanyaku sangat bersemangat atas hal yang kudengar.
"Iya, aku juga ingin sepertimu nanti pasanganku" jawabnya sambil tersenyum
"Kamu bisa saja,tapi kalau aku liat jadwal kita berbeda ya waktunya, gak bisa bareng dech" jawabku kecewa
"Gak apa-apa Neng, aku gak akan macam-macam disana"jawabnya sedikit meledek.
Nengsih tersenyum lebar mendengar jawaban dari Pangeran yang tak membawa kuda seperti di dongeng yang bersamanya tersebut,mengiringi proses perempuan yang dipanggil "Neng". Hingga saat perkuliahan si Upik Abu mendapat jas almamater berwarna biru malam dari staf fakultas yang berada digenggaman tangannya dan segera memutuskan untuk memakainya. Ada rona tak percaya muncul pada mukanya karena telah berada disini di  gedung E1 yang merupakan ruang perkuliahan magister FKIP bahasa inggris dan memakai almamater yang baginya lebih bernilai dari sebuah gaun putri raja.
Perjalanan memang masih panjang bagiku Cinderella untuk menyelesaikan pendidikanku di magister yang saat ini ruang-ruang perkuliahan beraneka warna kulalui hingga menghentikan langkah untuk belajar di ruang perkuliahan E1 lantai 2. Semoga aku bisa mencapai semua anganku untuk kelak berdiri di tengah-tengah mahasiswa menyebarkan ilmu yang aku punya, Aku yang hanya Cinderella yang tak memiliki materi berlimpah hanya tekad,cinta, dan keteguhan hati untuk mencapai istanaku sendiri nanti.