Senin, 31 Oktober 2016

Ilmu Pengetahuan,Kemaslahatan atau Malapetaka bagi Umat Manusia

                                               "Ilmu tanpa Agama Kacau"
                                               Agama tanpa Ilmu itu buta"

Pada perkembanganya, Ilmu pengetahuan terbagi dalam beberapa disiplin, yang membutuhkan pendekatan, sifat, objek, tujuan dan ukuran yang berbeda antara disiplin ilmu pengertahuan yang satu dengan yang lainnya. Pembahasan ilmu pengertahuan sangat penting karena akan mendorong manusia untuk lebih kreatif dan inovatif.
Ilmu pengetahuan tidak dapat lepas dari Filsafat dikarenakan Filsafat dan Ilmu Pengetahuan adalah dua kata yang  saling  berkaitan  baik  secara  substansial  maupun  historis Kelahiran  suatu  ilmu  tidak  dapat  dipisahkan  dari  peranan  filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu pengetahuan memperkuat keberadaan filsafat.
Dewasa ini filsafat ilmu pengetahuan sudah menjadi bahan ajar bagi tiap-tiap universitas, berbagai kajian mengenai hakikat kehidupan. Bagaimanakah kehidupan  ini?  Dan  untuk  apa  kehidupan  ini?,  manusia  mempunyai seperangkat ilmu pengetahuan yang bisa membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk. Orang lain yang mampu memberikan penilaian secara objektif dan tuntas serta pihak lain yang melakukan penilaian sekaligus memberikan arti adalah ilmu pengetahuan yang disebut filsafat.
Ilmu Pengetahuan atau Sains merupakan komponen terbesar  yang   diajarkan  dalam  semua strata   pendidikan. Walaupun telah bertahun-tahun mempelajari ilmu pengetahuan ilmiah tidak digunakan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari.  Ilmu  dianggap  sebagai  hafalan  saja, bukan  sebagai ilmu pengetahuan  yang    mendeskripsikan,    menjelaskan,  memprediksikan gejala alam untuk kesejahteraan dan kenyamanan hidup . Kini ilmu telah tercerabut  dari nilai luhur  ilmu pengetauan, yaitu  untuk  menyejahterakan  umat manusia.   Bahkan tidak mustahil terjadi, ilmu pengetahuan dapat menjadi bencana  bagi  kehidupan  manusia,  seperti pemanasan  global  dan dehumanisasi.  Ilmu pengetahuan  dan  teknologi  telah  kehilangan  rohnya  yang fundamental, karena ilmu pengetahuan telah mengurangi bahkan menghilangkan peran.
Landasan pokok dalam penelaahan ilmu bertumpu pada tiga cabang filsafat, yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Landasan ontologi berkaitan dengan pemahaman seseorang tentang kenyataan, landasan epistemologi memberikan pemahaman tentang sumber dan sarana pengetahuan manusia sedangkan landasan aksiologi yang memberikan suatu pemahaman tentang nilai hubungan kualitas obyek dengan objek keilmuan.
1.    Landasan Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut. Secara ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek penelaahan yang berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas ontologi tertentu. Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistimologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah.
Disamping itu, secara ontologi ilmu bersifat netral terhadap nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam menafsirkan hakikat realitas, sebab ilmu merupakan upaya manusia untuk mempelajari alam sebagaimana adanya. Sebagaimana kita mendefinisikan manusia, maka berbagai pengertianpun akan muncul.
Contoh: ada pertanyaan, Siapakah manusia itu? Jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi sedang ilmu politik menjawab manusia adalah mahluk politikal.
2.    Landasan Epistemologi
Epistimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistimologi mempertanyakan bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Apa kriterianya? Cara atau teknik atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yan berupa ilmu?
Landasan epistimologi ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun
tubuh pengetahuan berdasarkan:
a. Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun.
b. Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut.
c. Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran
pernyataan secara faktual.
Kerangka pemikiran yang logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam mengembangkan terhadap fenomena alam. Verifikasi secara empiris berarti evaluasi secara obyektif dari suatu pernyataan hipotesis terhadap kenyataan faktual. Verifikasi ini berarti bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang terkandung dalam hipotesis. Demikian juga verifikasi faktual membuka diri terhadap kritik kerangka pemikiran yang mendasari pengajuan hipotesis. Kebenaran ilmiah dengan keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai sifat pragmatis yang prosesnya secara berulang (siklus) berdasarkan cara berpikir kritis. Karena ilmu merupakan sikap hidup untuk mencari suatu kebanaran dan mencintai kebenaran sesuai dengan kaitan moral.
3.    Landasan Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural yang merupakan operasional.
Pada dasarnya ilmu harus dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat, martabat manusia dan kelestarian atau keseimbangan alam.
Untuk kepentingan manusia tersebut pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komural dan universal. Komural berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, semua orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti ilmu tidak memiliki konotasi
ras, ideologi atau agama.
Sebagaimana contoh seorang kepala desa mempelajari ilmu manajemen desa secara detail, mulai dari wilayah desa, mata pencaharian penduduk sampai dengan kehidupan sehari-hari para penduduk sekitar. Dengan landasan aksiologi mempertanyakan nilai apa yang terdapat didalam ilmu manajemen desa tersebut, sehingga terjawablah pertanyaan nilai tersebut dengan gambaran keberhasilan kepala desa untuk memajukan desanya dalam bidang kesejahteraan penduduk desa dan kelestarian wilayah desa.
           Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistimologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan antar satu dengan lainnya.
           Untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dengan pengetahuan lainnya maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah: apa yang dikaji oleh pengetahuan itu (Ontologi)? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu (Epistemologi)? Serta untuk apa pengetahuan termaksud dipergunakan (Aksiologi)?     
Dengan mengetahui ketiga jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam hasanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan kita untuk mengenali berbagai pengetahuan yang ada, seperti ilmu, seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita tidak dapat memanfaatkan keguanaannya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya, seperti ilmu dikacaukan dengan seni, ilmu dikonfigurasikan dengan agama.
Setiap jenis ilmu pengetahuan selalu mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) ilmu pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan; ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu, maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. Secara detail, tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik, justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan.
Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain, sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran.
Demikian juga, setiap jenis ilmu pengetahuan selalu mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) ilmu pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan; ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. Pembahasan mengenai epistemologi  harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi. Secara jelas, tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Dalam membahas dimensi kajian filsafat ilmu didasarkan model berpikir sistemik, sehingga harus senantiasa dikaitkan.

Referensi :
Amsal Bachktiar, 2004. Filsafat Komunikasi, Jakarta, Raja Grafindo Persada.
Beeding, Kusee, Moois, Van, Peursen, 2003. Pengantar Filsafat Ilmu (Diterjemahkan oleh Soejono Soemargono), Yogyakarta, PT. Tiara Wacana
Surajiyo. 2008. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta. PT Bumi  Aksara.
Jujun. S. Suriasumantri. 2001.
Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.

Sabtu, 29 Oktober 2016

Cerpen:Adore You, My Brother Chapter 1

Chapter 1:Love u, Dek

Langit pada sore itupun seolah bersorak bersama mendung serta titik-titik hujan mulai turun membasahi bumi yang sedang bereuforia bersama dengan sosok yang ikut menikmati hujan yang menari perlahan membasahi pesonanya.
Tampak ia yang tanpa senyum berparas kebekuan bukan karena tertusuk dinginnya hujan tapi perasaan sudah melepas namun saat dihadapan dengan pribadi yang menerkam hatinya lalu menghempaskannya yang membuatnya merasa lebih menghujam menusuk kejam hatinya dibanding kejamnya hujan yang membuatnya pasi berada dibawah rintikannya.
“Kenapa harus bertemu lagi” gumam singkatnya yang bahkan rintik hujan serta angin tak akan bisa mendengar lirihan tersebut dari Rara, iya ialah Rara yang pada hari itu saat berjalan pulang hujan berhasil mengejar dan membasahinya serta dihujam pertemuan yang tak ia pernah inginkan lebih membuat dingin hatinya tidak hanya tubuhnya yang dihujam dinginnya hujan.
Ia hempaskan tubuhnya pada tempat tidur sesampainya dirumah membiarkan bajunya yang basah membasahi sekitarnya dan menutup matanya dengan harapan ia bisa terbawa pada lupa akan apa yang ia temui tadi bermacam anganpun mulai menari bersamanya memori-memori yang telah ia usir memaksa kembali datang beserta sesalnya kenapa ia bisa menjadi ceroboh sehingga virus bernama harapan,percaya tinggi,dan angan-angan saja mampu menjatuhkannya.
“Ra,kamu harus berfikir ulang mengenai ini jangan sampai perasaanmu buat kamu gak bisa berfikir pake logika lagi,please dech Ra” Ucap laki-laki secara tak begitu jelas karena sambil menikmati cokelat yang tak pernah lepas darinya.
“Please juga dech kak,aku ini gak ada maksud dekat ama dia dan udah jaga jarak...”
“Tapi kenyataannya sekarang beda kamu udah ikut-ikutan menuruti perasaan kepedeanmu saja bukan rasional” potong dia sambil masih mengunyah cokelat.
“Aduh,kakakku sayang,jangan begini.Aku masih berfikir secara baik-baik kok jangan khawatirkan aku ya” jawab Rara sambil mencubit pipi sosok yang duduk disampingnya dengan raut muka tidak percaya.
“Udah ya aku mau keluar dulu beli makan udah dari siang kita ngerjakan tugasnya dan belum makan,dadaaahhh kakak sayang!” ucap Rara sambil berlalu melewati sosok tersebut.
Namun tiba-tiba langkah Rara terhenti dan terhentak oleh tarikan dari laki-laki tersebut yang meraih tangan Rara secara tiba-tiba dan menghempaskan cokelat ditangannya diiringi dengan tatapan mata yang mengisyaratkan sesuatu yang Rara tangkap dengan kebingungan.
“Kenapa kakak menatapku seperti ini” Batin Rara.

“Semua tau bahwa dia udah punya tunangan..Tunangan! dan nantinya ia hanya akan bilang bahwa ia hanya ingin menjadi temanmu saja gak lebih bukalah dirimu untuk orang lain bukan untuk dekat dengan dia”


Rara menarik keras tangannya dari genggaman itu dan pergi melewatinya dengan membawa wajah kesal tanpa mengeluarkan sepatah katapun.Itulah Awan sahabat masa kecilnya hingga sekarang yang terpaut usia 2 tahun lebih tua dari Rara yang baru saja setahun lulus dari perkuliahan.Orang lain terutama gadis-gadis akan cemburu dan menatap sinis hingga iri pada Rara yang bersama Awan terlihat bagai pasangan kekasih karena Awan memiliki penampilan sempurna untuk menjadi daya pikat bagi wanita.
Ingatan Rara pun melambung ke masa lalu masa dimana ia melewati masa kecilnya hanya bersama Tante Cindy terutama Awan yang selalu ada bersamanya menghapus tangisan Rara kecil saat malam hari dan membuat tawa Rara saat ada bersamanya.Bagi Rara, Awan adalah sosok kakak yang selalu ada bersamanya saat waktu telah merenggut seluruh keluarganya dalam sebuah kecelakaan saat Rara kecil.Awan adalah sosok yang memberi Rara kasih sayang seorang Ayah serta Kakak sekaligus perhatian dari sahabat. Pada saat itu langit mendung memayungi Rara kecil yang menatap kosong tanah pemakaman ayah,ibu,serta kakak kandung satu-satunya yang basah oleh rintikan hujan tak ada air mata pada wajah cantik Rara namun ia mengerti bahwa ia sekarang hanya sebatang kara bertemankan kesedihan saat Rara tertunduk datanglah perasaan hangat yang memeluknya ternyata itu adalah pelukan dari seorang Awan yang menenangkan Rara kecil dan merengkuh Rara dalam dekapannya dan membawa Rara pada kehidupan yang ia rancang penuh kasih sayang untuk Rara hingga mereka berdua telah dewasa dan ia harapkan berlangsung selamanya.
Awan bersama Tante Cindy adalah tetangga dekat Rara yang sudah menganggap Rara adalah keluarga mereka. Awan juga berlatar belakang anak yang yatim piatu sehingga tidak ingin Rara juga merasakan apa yang ia rasakan selalu menjaga Rara hingga mereka tumbuh dewasa bersama-sama.Rara menjadi sosok adik yang merupakan mahasiswa semester awal dan Awan yang sudah lebih dewasa d mengelola perusahaan mendiang ayahnya.Sedangkan Tante Cindy adalah desainer ternama yang juga merupakan warisan dari mendiang ibu Awan yang masih ia teruskan.
Walau perkataan Awan kemarin membuat Rara marah namun ia tahu bahwa itu adalah perhatian dari seseorang kakak yang tak ingin adiknya menangis apalagi tersakiti. Saat pagi masih malu-malu menunjukkan sinar matahari, Rara terlihat pergi menuju rumah Awan yang berjarak 2 rumah saja dari rumahnya dengan langkah ragu dan sedikit cepat.
“Semoga kakak tidak marah padaku”ucap rara sebelum mengetuk pintu dan tiba-tiba pintu terbuka dan mengenai kepala Rara.
“Aduh,kakak kepalaku sakit nich!” ucap Rara kesal sambil memegang kepalanya dan Rara mengerti Awan hanya mematung menatapnya.”Kakak masih marah ama aku ya?ini aku bawain cokelat kesukaan kakak” tanya Rara dengan wajah senyum memelas pada Awan.
“Tidak,aku tidak marah padamu” sahut Awan singkat.
“Kalau kakak tidak marah kenapa kakak tidak mengusap kepalaku yang kena pintu itu tadi dan mengambil cokelat ini”tanya Rara hampir ingin menangis.
“Baiklah..Baiklah, aku ambil cokelat ini jangan menangis” jawabnya sambil mengambil cokelat dan mengusap kepala Rara dengan kasih sayang”
“Horeeee,,ayo kakak kita masuk kedalam rumah dan sarapan sebelum berangkat kerja”ucap Rara sambil mengandeng tangan Awan yang hanya bisa tersenyum dengan tatapan penuh arti.
"Awan,Rara kenapa matanya kayak habis nangis gitu?"Tanya Tante Cindy sambil menyiapkan sarapan mereka
"Biasa tante dia nangis takut kakaknya ini gak maafin dia"jawab Awan sambil tertawa
"Gak gitu tante,abis kakak marah gak jelas kemarin" jawab Rara memelas
"Awan,kamu apain adikmu itu seharusnya gak boleh dimarahi"Tanya Tante Cindy tegas
"Hmmm,,,anak manja, karena Awan sayang ama dia tante"
Tante Cindy hanya tersenyum melihat Rara yang tiba-tiba terbatuk saat meminum jusnya saat mendengar jawaban Awan dan Awan tertawa serta Tante Cindy memperhatikan Awan lebih seksama dan memaknai ucapan Awan bukan sekedar ucapan biasa baginya."Iya dong,kakak Awan itu emang perhatian ke adiknya yang manis ini"
Rara tiba-tiba memeluk Awan dan Tante Cindy dengan tangan memegang roti untuk dibawanya pergi kuliah dan berlari-lari terburu-buru keluar rumah untuk segera masuk ke mobil Awan yang selalu mengantarkannya.
"Hmmm....Hmmm...Awan...Awan kenapa kamu mematung gitu"tegur Tante Cindy
"Gak kenapa-napa tante"Jawab Awan kebingungan
"Sudah cepat selesaikan sarapanmu,Adikmu yang tersayang tak bisa menunggu lama dimobil tuh"
Awan segera menyelesaikan sarapannya lalu berpamitan ke Tante Cindy untuk mengantar dan pergi bekerja ke perusahaan.Pada saat Awan ingin menuju gerbang Tante Cindy tersenyum pada Awan seolah ia memahami sesuatu yang terjadi pada keponakannya.
"Kak,tante kenapa senyum gitu ke kakak?"tanya Rara heran
"Jadi tante Cindy harus pasang tampang cemberut ke kakak gitu dek?" jawab Awan sambil mengendarai mobil
"ya kayak ada yang beda gitu kak"sahut Rara singkat.
Suasana pun hening saat perjalanan yang mereka lewati hanya ada gumaman dalam benak Awan yang tak akan Rara ketahui entah sampai kapan hingga saat dimana Awan akan menyatakannya.

"Love u, dek"gumam Awan dalam hatinya.