"Ilmu tanpa Agama Kacau"
Agama tanpa Ilmu itu buta"
Pada perkembanganya, Ilmu pengetahuan terbagi
dalam beberapa disiplin, yang membutuhkan pendekatan, sifat, objek, tujuan dan
ukuran yang berbeda antara disiplin ilmu pengertahuan yang satu dengan yang lainnya. Pembahasan ilmu pengertahuan sangat
penting karena akan mendorong manusia untuk lebih kreatif dan inovatif.
Ilmu pengetahuan
tidak dapat lepas dari Filsafat dikarenakan Filsafat
dan Ilmu Pengetahuan adalah dua kata yang
saling berkaitan baik
secara substansial maupun
historis Kelahiran suatu ilmu
tidak dapat dipisahkan
dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan
ilmu pengetahuan memperkuat keberadaan filsafat.
Dewasa ini filsafat ilmu pengetahuan sudah menjadi
bahan ajar bagi tiap-tiap universitas, berbagai kajian mengenai hakikat
kehidupan. Bagaimanakah kehidupan
ini? Dan untuk
apa kehidupan ini?,
manusia mempunyai seperangkat ilmu
pengetahuan yang bisa membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk. Orang
lain yang mampu memberikan penilaian secara objektif dan tuntas serta pihak
lain yang melakukan penilaian sekaligus memberikan arti adalah ilmu pengetahuan
yang disebut filsafat.
Ilmu Pengetahuan atau Sains merupakan komponen
terbesar yang diajarkan
dalam semua strata pendidikan. Walaupun telah bertahun-tahun
mempelajari ilmu pengetahuan ilmiah tidak digunakan sebagai acuan dalam
kehidupan sehari-hari. Ilmu dianggap
sebagai hafalan saja, bukan
sebagai ilmu pengetahuan
yang mendeskripsikan, menjelaskan,
memprediksikan gejala alam untuk kesejahteraan dan kenyamanan hidup .
Kini ilmu telah tercerabut dari nilai
luhur ilmu pengetauan, yaitu untuk
menyejahterakan umat
manusia. Bahkan tidak mustahil terjadi, ilmu pengetahuan dapat menjadi bencana bagi
kehidupan manusia, seperti pemanasan global
dan dehumanisasi. Ilmu pengetahuan dan
teknologi telah kehilangan
rohnya yang fundamental, karena
ilmu pengetahuan telah mengurangi bahkan menghilangkan peran.
Landasan pokok dalam penelaahan ilmu
bertumpu pada tiga cabang filsafat, yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi.
Landasan ontologi berkaitan dengan pemahaman seseorang tentang kenyataan,
landasan epistemologi memberikan pemahaman tentang sumber dan sarana
pengetahuan manusia sedangkan landasan aksiologi yang memberikan suatu
pemahaman tentang nilai hubungan kualitas obyek dengan objek keilmuan.
1.
Landasan
Ontologi
Ontologi adalah
cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitannya dengan
ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek apa yang ditelaah ilmu,
bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut. Secara ontologi ilmu membatasi
lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam
jangkauan pengalaman manusia. Objek penelaahan yang berada dalam batas
pra-pengalaman dan pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain.
Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang
mencoba menelaah kehidupan dalam batas ontologi tertentu. Penetapan lingkup
batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan
asas epistimologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris
dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah.
Disamping itu, secara ontologi ilmu bersifat netral terhadap nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam menafsirkan hakikat realitas, sebab ilmu merupakan upaya manusia untuk mempelajari alam sebagaimana adanya. Sebagaimana kita mendefinisikan manusia, maka berbagai pengertianpun akan muncul.
Contoh: ada pertanyaan, Siapakah manusia itu? Jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi sedang ilmu politik menjawab manusia adalah mahluk politikal.
Disamping itu, secara ontologi ilmu bersifat netral terhadap nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam menafsirkan hakikat realitas, sebab ilmu merupakan upaya manusia untuk mempelajari alam sebagaimana adanya. Sebagaimana kita mendefinisikan manusia, maka berbagai pengertianpun akan muncul.
Contoh: ada pertanyaan, Siapakah manusia itu? Jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi sedang ilmu politik menjawab manusia adalah mahluk politikal.
2.
Landasan
Epistemologi
Epistimologi adalah cabang filsafat
yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas
atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistimologi
mempertanyakan bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang
berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Apa kriterianya? Cara atau teknik atau
sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yan berupa ilmu?
Landasan epistimologi ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan:
Landasan epistimologi ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan:
a. Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan
argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah
berhasil disusun.
b. Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut.
c. Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual.
b. Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut.
c. Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual.
Kerangka pemikiran yang logis adalah
argumentasi yang bersifat rasional dalam mengembangkan terhadap fenomena alam.
Verifikasi secara empiris berarti evaluasi secara obyektif dari suatu
pernyataan hipotesis terhadap kenyataan faktual. Verifikasi ini berarti bahwa
ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang terkandung dalam hipotesis.
Demikian juga verifikasi faktual membuka diri terhadap kritik kerangka
pemikiran yang mendasari pengajuan hipotesis. Kebenaran ilmiah dengan
keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai sifat pragmatis yang prosesnya
secara berulang (siklus) berdasarkan cara berpikir kritis. Karena ilmu
merupakan sikap hidup untuk mencari suatu kebanaran dan mencintai kebenaran
sesuai dengan kaitan moral.
3. Landasan Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang
mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi
mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan?
Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana
penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana
kaitan antara teknik, prosedural yang
merupakan operasional.
Pada dasarnya ilmu harus dipergunakan
dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan
sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan
memperhatikan kodrat, martabat manusia dan kelestarian atau keseimbangan alam.
Untuk kepentingan manusia tersebut pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komural dan universal. Komural berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, semua orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti ilmu tidak memiliki konotasi ras, ideologi atau agama.
Untuk kepentingan manusia tersebut pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komural dan universal. Komural berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, semua orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti ilmu tidak memiliki konotasi ras, ideologi atau agama.
Sebagaimana contoh seorang kepala
desa mempelajari ilmu manajemen desa secara detail, mulai dari wilayah desa,
mata pencaharian penduduk sampai dengan kehidupan sehari-hari para penduduk
sekitar. Dengan landasan aksiologi mempertanyakan nilai apa yang terdapat
didalam ilmu manajemen desa tersebut, sehingga terjawablah pertanyaan nilai
tersebut dengan gambaran keberhasilan kepala desa untuk memajukan desanya dalam
bidang kesejahteraan penduduk desa
dan kelestarian wilayah desa.
Ilmu
merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Setiap jenis
pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi),
bagaimana (epistimologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut
disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan antar satu dengan lainnya.
Untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dengan pengetahuan lainnya maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah: apa yang dikaji oleh pengetahuan itu (Ontologi)? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu (Epistemologi)? Serta untuk apa pengetahuan termaksud dipergunakan (Aksiologi)?
Untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dengan pengetahuan lainnya maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah: apa yang dikaji oleh pengetahuan itu (Ontologi)? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu (Epistemologi)? Serta untuk apa pengetahuan termaksud dipergunakan (Aksiologi)?
Dengan mengetahui ketiga jawaban dari
ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis
pengetahuan yang terdapat dalam hasanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan
kita untuk mengenali berbagai pengetahuan yang ada, seperti ilmu, seni dan
agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling
memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri pengetahuan dengan benar
maka bukan saja kita tidak dapat memanfaatkan keguanaannya secara maksimal
namun kadang kita salah dalam menggunakannya, seperti ilmu dikacaukan dengan seni,
ilmu dikonfigurasikan dengan agama.
Setiap jenis ilmu pengetahuan selalu mempunyai ciri-ciri yang spesifik
mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi)
dan untuk apa (aksiologi) ilmu pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan
ini saling berkaitan; ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, epistemologi
ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. Kalau kita ingin
membicarakan epistemologi ilmu,
maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. Secara detail,
tidak mungkin bahasan epistemologi
terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Apalagi bahasan yang
didasarkan model berpikir sistemik, justru ketiganya harus senantiasa
dikaitkan.
Keterkaitan antara ontologi, epistemologi,
dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam
suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng
dari yang lain, sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan
dalam mekanisme pemikiran.
Demikian juga, setiap jenis ilmu pengetahuan selalu mempunyai ciri-ciri
yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) ilmu pengetahuan tersebut
disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan; ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, epistemologi ilmu terkait dengan
aksiologi ilmu dan seterusnya. Pembahasan mengenai epistemologi harus dikatikan
dengan ontologi dan aksiologi. Secara jelas, tidak
mungkin bahasan epistemologi terlepas
sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Dalam membahas dimensi kajian filsafat ilmu didasarkan
model berpikir sistemik, sehingga harus senantiasa dikaitkan.
Referensi :
Amsal Bachktiar, 2004. Filsafat Komunikasi, Jakarta, Raja Grafindo Persada.
Beeding, Kusee, Moois, Van, Peursen, 2003. Pengantar Filsafat Ilmu (Diterjemahkan oleh
Soejono Soemargono), Yogyakarta, PT. Tiara Wacana
Surajiyo. 2008. Filsafat Ilmu
dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta. PT Bumi Aksara.
Jujun. S. Suriasumantri. 2001. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.
Jujun. S. Suriasumantri. 2001. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar