Pagi menyapa kerumuman embun yang tak hentinya membuat basah seluruh semesta.Entah apa yang diceritakan pada saat pertukaran mereka dari senja menjadi pagi cerah mewarnai seperti sekarang ini.Rara telah menapakkan kakinya keluar dari rumahnya sendiri untuk berangkat kuliah dan menatap rumah diseberangnya yang telah ia tinggalkan begitu pagi sekali menunggu sosok yang sering menyambutnya di pagi datang menghampirinya.Nampak lelaki tinggi menggunakan kemeja begitu rapinya keluar melewati pintu pagar rumahnya untuk menuju peraduan pekerjaannya. Awan pun melihat sosok perempuan yang selalu ia lihat di pagi hari selalu yang dinantikannya untuk melihat senyuman manis dan ucapan hangat yang selalu ada darinya.
"Gadis itu selalu berdiri ditempat yang sama setiap paginya"intip Awan dari dalam mobil yang merapat ke arah Rara.
"Apakah tuan hari ini akan membawa saya seperti sebelumnya?" tanya Rara pada Awan.
"Tentu saja Tuan Puteri"ucap Awan sambil membukakan pintu mobil untuk Rara.
"Apakah tidur kakak nyenyak tadi malam?' Tanya Rara
"Kenapa kamu bertanya seperti itu dek? Tidurmu nyenyak ya memimpikan Rey?" Tanya Awan
"Apaan sich kak, mata kakak tuh ada kantungnya. Begadang ya?Tanya Rara sambil menatap Awan
"Iya lembur banyak materi meeting yang harus disiapkan untuk hari ini" jawab Awan
"Kakak itu juga perlu sekali-kali refreshing atau pergi ama tunangan kakak" jawab Rara
"Kakak ajak dinner dia malah tidak datang" Ungkap Awan agar Rara tak curiga,
"Hubungan kakak sepertinya dalam masalah"ungkap Rara dalam hatinya.
Hening pun menguasai antara mereka berdua hingga sampainya Rara di gedung perkuliahannya.Awan pun mengantarkan Rara memasuki ruang kelasnya.Tatapan demi tatapan kaum hawa menghampiri Rara dan sosok yang bersamanya, Sosok yang terlihat bak pangeran yang gagah nan perkasa membuat tak ada satu wanita pun yang melepaskan pandangannya dan menaruh iri pada Rara yang bersamanya lebih dari sekedar menatapnya tapi berada bersamanya disampingnya.Hingga ketenangan itu berubah saat Rey menatap dengan senyum kepada Rara dan Awan yang telah berada di depan ruang perpustakaan yang begitu ramai hilir mudik mahasiswa memilih berlalu pergi sebelum suasana menjadi lebih ramai karena dirinya. Ia harus pergi pada saat hatinya tak ingin melepaskan Rara yang terkungkung oleh tatapan Rey yang baginya bukan tatapan tulus tapi sebuah kepalsuan.
"Selamat pagi Rara,ini untukmu"ucap Rey sambil memberikan bunga pada Rara.
"Apa ini bang malu diliat teman-teman Rara"ucap Rara sambil melirik teman-temannya
"Apa ini bang malu diliat teman-teman Rara"ucap Rara sambil melirik teman-temannya
"tadi gak sengaja lewat toko bunga terus liat bunga ini memutuskan untuk beli" jawab Rey
"Iya,makasih yang bang,Rara masuk ke kelas dulu teman-teman udah nunggu"
'Tunggu Ra, apa Rara sudah memikirkan jawabannya?" tanya Rey sambil memegang lengan Rara
Rara p
un berlalu dengan tersipu malu melewati Rey yang terlihat senyum tipis ada diwajahnya.
un berlalu dengan tersipu malu melewati Rey yang terlihat senyum tipis ada diwajahnya.
"Ciiiieeee Rara, ada yang nunggu jawabannya nich"goda Selvi padanya.
"Terima saja Ra,ganteng gitu kalo aku mau banget"jawab Ningsih sambil tertawa
"Terima saja Ra,ganteng gitu kalo aku mau banget"jawab Ningsih sambil tertawa
"Ah, Ningsih tadi sampai mau pingsan gitu liat abangnya Rara sekarang ke Bang Rey gitu juga"jawab Selvi
"Segera kasih jawaban dech Ra,kasihan abang Rey nunggu"jawab Ningsih
"Aku masih harus berfikir,harus mendengar pendapat Kak Awan dulu,kalian tau kan dia sangat memperhatikanku"ucap Rara pada mereka
"Aku masih harus berfikir,harus mendengar pendapat Kak Awan dulu,kalian tau kan dia sangat memperhatikanku"ucap Rara pada mereka
"Hhhmmm,kalo menurut aku sich Ra,kamu harus tau dulu dengan Bang Rey karena ada cerita kalo dia itu gak serius"ucap Laras serius.
"Ah,kan dia sudah berubah kali Ras,gak kayak dulu itu dan mungkin cuma gosip kalo dia begitu"jawab Ningsih
"Waspada kan boleh,apalagi Kak Awan mana mau Rara kenapa-napa" sambung Selvi.
"Kak Awan itu yang ngerawat kamu lagi kecil ya Ra?"Tanya Ningsih
"Iya,aku sudah seperti adiknya sendiri makanya dia perhatian sekali"jawab Rara
"Tapi,bisa saja Kak Awan punya perasaan lebih dari sekedar saudara loh Ra,mau gimana pun kalian bukan saudara kandung hal itu bisa terjadi"Sambung Laras dengan serius.
"itu gak mungkin, oh ya emang dulu Abang Rey kenapa emangnya?"tanya Rara penasaran
"Gak kenapa-napa kok Ra,udah yuk masuk kelas"Sanggah Selvi dengan ketakutan.
"Eh,tunggu,kalian belum kenapa gak berani ngasih tau aku?"tanya Rara bingung saat temannya langsung ke kelas meninggalkannya.
Sore pun datang dengan cepatnya,nampak Rara berdiri sendirian berjalan menuju kerumahnya karena Awan sepertinya sibuk dengan pekerjaan kantornya sehingga tanpa sengaja melupakan bahwa Rara hari ini jadwal pulangnya lebih cepat.Sepanjang jalan Rara terhamburkan kenangannya bersama orang tuanya yang hanya sempat dia rasakan sebentar lalu hilang tergantikan rasa kehilangan mendalam tak mampu ia tangkal bahwa ia sangat merindukan ayah dan bundanya.Hingga, ia terkejutkan saat seorang anak mengendarai kendaraan dengan begitu cepatnya mendekat ke arahnya dan Rara tak mampu lagi menghindar seketika Rara namun seketika ia rasakan ada kehangatan mendekapnya saat matanya seketika terpejam berfikir ia akan terjatuh dan cedera.Rey tampak menahan sakit dan mendekap tubuh Rara erat yang terjatuh dipelukannya.Kerumunan pun segera berkumpul dan salah satunya Awan ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Rara,kamu gak apa-apa?"tanya Awan cemas menghampiri Rara dan memeriksa keadaannya
"Rara,gak kenapa kak,tapi Bang Rey kak...."Rara segera melihat keadaan Rey.
"Abang Rey bangun..Bang Rey gak apa-apa kan?"Rara cemas melihat Rey pingsan "Kak Awan kenapa diam saja lakukan sesuatu?"sambung Rara menatap Awan
"Ini kakak udah menghubungi ambulans Ra untuk membawa Rey dan anak kecil ini"Awan dengan segera memeriksa keadaan anak kecil yang menabrak mereka.
Tidak lama mobil ambulans datang dan orang-orang mengangkat Rey dan anak kecil tersebut segera,Rara juga ingin masuk ke mobil ambulans untuk menjaga Rey namun Awan mencegahnya dengan menarik tangannya.
"Kamu mau kemana"kamu sebaiknya ikut kakak pulang kerumah"ucap Awan
"Gak kak,Rara mau menemani Abang Rey dia sendirian disana nanti"jawab Rara
"Gak dek gak,kamu ikut pulang saja.kamu liat mukamu pucat itu dan besok kalau sudah pulih kamu bisa menjenguknya,Kakak sudah menghubungi keluarganya Rey.Kakak teman dekatnya Rey dulu"
"Baiklah Rara akan ikut kakak pulang" jawab Rara lemas.
Sesampainya di rumah,Tante Cindy terkejut melihat muka pucat Rara dan pakaian Rara kotor karena terjatuh tadi dan ada luka kecil disikunya.
"Awan kamu kemana aja gak jemput Rara tepat waktu sampai dia lecet begini"Tanya Tante Cindy
"Tadi Awan ada meeting jadi agak terlambat,dianya juga gak nunggu digerbang malah jalan kaki"jawab Awan
"Abis Rara lama nunggu dan sendirian disana yang lain pada pulang semua"jawab Rara jengkel.
"Iya,kamu senang gitu bisa kayak drama korea pas kesempret ditolong Rey gitu?"jawab Awan
"Udah ah,yang penting Rara udah gak apa-apa dan cuma lecet,lalu gimana keadaan Rey?"tanya Tante Cindy
"Itu tanya saja ama Rara, Awan mau ke kamar dulu dan capek banget"jawab Awan dingin
"Kak Awan kenapa sich tante?marah ama Rara ya?"tanya Rara bingung
"Gak Ra,dia cuma mencemaskan kamu makanya begitu,udah Rara ke kamar istirahat biar besok bisa jenguk Rey dan ke kampus lagi" ucap Tante Cindy.
"itu gak mungkin, oh ya emang dulu Abang Rey kenapa emangnya?"tanya Rara penasaran
"Gak kenapa-napa kok Ra,udah yuk masuk kelas"Sanggah Selvi dengan ketakutan.
"Eh,tunggu,kalian belum kenapa gak berani ngasih tau aku?"tanya Rara bingung saat temannya langsung ke kelas meninggalkannya.
Sore pun datang dengan cepatnya,nampak Rara berdiri sendirian berjalan menuju kerumahnya karena Awan sepertinya sibuk dengan pekerjaan kantornya sehingga tanpa sengaja melupakan bahwa Rara hari ini jadwal pulangnya lebih cepat.Sepanjang jalan Rara terhamburkan kenangannya bersama orang tuanya yang hanya sempat dia rasakan sebentar lalu hilang tergantikan rasa kehilangan mendalam tak mampu ia tangkal bahwa ia sangat merindukan ayah dan bundanya.Hingga, ia terkejutkan saat seorang anak mengendarai kendaraan dengan begitu cepatnya mendekat ke arahnya dan Rara tak mampu lagi menghindar seketika Rara namun seketika ia rasakan ada kehangatan mendekapnya saat matanya seketika terpejam berfikir ia akan terjatuh dan cedera.Rey tampak menahan sakit dan mendekap tubuh Rara erat yang terjatuh dipelukannya.Kerumunan pun segera berkumpul dan salah satunya Awan ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Rara,kamu gak apa-apa?"tanya Awan cemas menghampiri Rara dan memeriksa keadaannya
"Rara,gak kenapa kak,tapi Bang Rey kak...."Rara segera melihat keadaan Rey.
"Abang Rey bangun..Bang Rey gak apa-apa kan?"Rara cemas melihat Rey pingsan "Kak Awan kenapa diam saja lakukan sesuatu?"sambung Rara menatap Awan
"Ini kakak udah menghubungi ambulans Ra untuk membawa Rey dan anak kecil ini"Awan dengan segera memeriksa keadaan anak kecil yang menabrak mereka.
Tidak lama mobil ambulans datang dan orang-orang mengangkat Rey dan anak kecil tersebut segera,Rara juga ingin masuk ke mobil ambulans untuk menjaga Rey namun Awan mencegahnya dengan menarik tangannya.
"Kamu mau kemana"kamu sebaiknya ikut kakak pulang kerumah"ucap Awan
"Gak kak,Rara mau menemani Abang Rey dia sendirian disana nanti"jawab Rara
"Gak dek gak,kamu ikut pulang saja.kamu liat mukamu pucat itu dan besok kalau sudah pulih kamu bisa menjenguknya,Kakak sudah menghubungi keluarganya Rey.Kakak teman dekatnya Rey dulu"
"Baiklah Rara akan ikut kakak pulang" jawab Rara lemas.
"Awan kamu kemana aja gak jemput Rara tepat waktu sampai dia lecet begini"Tanya Tante Cindy
"Tadi Awan ada meeting jadi agak terlambat,dianya juga gak nunggu digerbang malah jalan kaki"jawab Awan
"Abis Rara lama nunggu dan sendirian disana yang lain pada pulang semua"jawab Rara jengkel.
"Iya,kamu senang gitu bisa kayak drama korea pas kesempret ditolong Rey gitu?"jawab Awan
"Udah ah,yang penting Rara udah gak apa-apa dan cuma lecet,lalu gimana keadaan Rey?"tanya Tante Cindy
"Itu tanya saja ama Rara, Awan mau ke kamar dulu dan capek banget"jawab Awan dingin
"Kak Awan kenapa sich tante?marah ama Rara ya?"tanya Rara bingung
"Gak Ra,dia cuma mencemaskan kamu makanya begitu,udah Rara ke kamar istirahat biar besok bisa jenguk Rey dan ke kampus lagi" ucap Tante Cindy.

