Chapter 4 : Gagal
Suasana malam menjelang acara
penutupan kegiatan seluruh mahasiswa yang sudah berhari-hari dilelahkan dengan
pengabdian ke masyarakat terbayarkan dengan suguhan pemandangan serta hiburan
berupa alunan musik yang mengalun lembut melepaskan penat. Tampak api unggun
nan cantik menjadi pusat perhatian yang memancarkan kehangatan melawan
dinginnya malam.
Romantisme bertebaran
dimana-dimana saat sepasang mata saling beradu pandang antara dua insan
ditengah-tengah keramaian yang seperti ada hanya mereka tanpa ada orang
sekeliling, ,mengabaikan dua insan yang mengekspresikan rasa sukanya dengan
caranya tadi di sisi lain ada suara tawa dan canda yang renyah dari sekawanan yang
telah mengukirnya dalam persahabatan yang hanya bisa mengekspresikan
kegembiraan dan sebagai perwujudan romantisme yang dinikmati bukan sebagai
dimiliki dua insan.
Di sudut ruangan lain ada
romantisme yang telah dibuat Awan tersendiri menunggu seseorang yang memang
telah dinantinya. Ia mencoba mengatur gesture dan tuturnya seawal mungkin agar
tidak melakukan kesalahan saat sosok yang ingin dijumpainya hadir dihadapannya.
Handphone yang terus berdering
tak mampu membuat Rara untuk tak mengindahkannya dan ia segera mengintip
layarnya handphone tersebut dan tertera satu nama yang mengirim pesan singkat
padanya.
“Ini sudah malam kapan kamu akan
tiba Ra?” nampak pesan singkat tersebut.
“Rara akan kembali setelah acara api
unggun selesai kak,Rara janji”
Awan hanya tersenyum karena ia
harus bersabar dan bersyukur masih ada waktu yang diulur untuk memang dirinya
yang belum sepenuhnya siap saat Rara datang segera mungkin. Nampak disana Rey
mengukir tawa Rara lewat beberapa candaan tapi dalam hatinya memikirkan bahwa
ia akan membuat Awan menunggu lebih lama akibat adanya acara api unggun ini,
Rey mengerti akan apa yang Rara siratkan lewat sikapnya dan mencoba mengajak
Rara menikmati malam yang bertaburan bintang yang hanya bisa mereka nikmati
berdua.
“Ra, apa kamu baik-baik saja?”
tanya Rey
“Iya, Rara baik-baik saja Bang
hanya saja Rara tidak enak dengan Kak Awan yang sudah menunggu Rara” jawab Rara
“Awan pasti akan mengerti Ra”
jawab Rey dengan sedikit menghela nafasnya ”Gimana kalau kita ke bukit yang
disana itu Ra”? ajak Rey sambil menunjuk bukit kitu.
“ yang beberapa mahasiswa ada
kesana juga ya bang?” melirik ke arah bukit.
“Iya,itu kalaupun kamu mau Ra.”
Diiringgi hanya anggukan dari
Rara, Rey pun berjalan pelan disamping Rara menikmati perjalanan menuju bukit
tersebut.Percakapan sederhana namun begitu berarti bagi Rey akan terjadi. Ia telah
mengumpulkan seluruh keberaniaannya.
“Ra, abang boleh bertanya
sesuatu?”
“Boleh bang”jawab Rara diiringi
anggukan singkat
“Apakah Rara tak pernah berfikir
kalau Awan bisa saja menyukai Rara”
“Maksudnya abang? Kak Awan sudah
seperti kakak bagi Rara” jawab Rara
“Lalu, jika Awan mencintai Rara
bukan hanya sekedar saudara?”
“Tidak mungkin kak Awan seperti
itu lah Bang” jawab Rara sedikit ragu.
“Rara, abang ingin mengatakan
kalau abang menyukai Rara” ucap Rey sambil menatap Rara.
“Apa? Abang menyukai Rara?” jawab
Rara dengan wajah sedikit memerah.
“Abang tau Rara akan kaget tapi
Rara bisa memberi jawabannya malam ini” jawab Rey.
“Rara masih harus berfikir dulu
bang”
Rara segera beranjak pergi dari
bukit yang begitu indah bertaburan bintang karena seluruh mahasiswa harus
segera pulang karena kegiatan telah selesai dari pengumuman panitia kegiatan
tersebut, Rara tiba-tiba memikirkan Awan yang semula tak ada didalam fikirannya
dan juga perkataan Rey yang membuatnya terkejut dan harus menemukan jawaban
segera karena sosok yang berada disampingnya akan menantinya jawaban Rara
dengan sabar. Rey hanya diam berjalan disamping Rara dan tiba-tiba menggenggam
erat tangan Rara karena melihat Rara beberapa kali sering tersandung batu-batu yang
bisa membuatnya terjatuh.
“Abang tau ini terlalu cepat
bagimu, tapi abang bersungguh-sungguh”
“Iya bang,Rara akan mengerti”
Bayangan Awan saat itu begitu
memenuhi jiwa Rara dan ingin sesegera mungkin sampai dan berada dihadapan Awan
dan Rey pun mengantarkan Rara sampai kerumahnya, Rara segera berlari menemui
Awan saat telah mengucapkan terima kasih pada Rey. Rara mencoba membuka pintu
rumah Awan yang tak terkunci namun hanya ruangan gelap yang ia dapati dan
berfikir Tante Cindy telah tidur dan berkeliling ruangan mencari satu sosok
yang membenamkan fikirannya.
Awan yang masih berdiri diruangan
diatas balkon rumahnya telah melihat Rara memasuki ruangan utama rumahnya dan
mencari keberadaannya, Awan menikmati paras Rara terlebih dahulu dari kejauhan
sebelum Rara mengetahui keberadaannya. Rara menatap ke arah balkon karena hanya
disitu yang masih bercahaya walau hanya berasal dari lampu temaram dan ia
melihat sosok Awan disana. Ia segera menaiki tangga agar perasaannya
tersampaikan.
"Kakak,apakah Rara membuat kakak lama..........................."Rara tersentak melihat Awan "Kakak mau dinner sama siapa dan pakaian serapi itu" Tanya Rara bingung
"Hmmm,ini kakak persiapan untuk...hhmmmm"jawab Awan singkat
"Kakak kok gugup gitu,kakak mau melamar perempuan ya?"goda Rara pada Awan.
"Tidak Ra,kakak mempersiapkan ini untuk................."ucapan Awan terhenti.
"Kakak,tahu gak Bang Rey nembak Rara tadi?"
Ucapan Rara mengejutkan Awan yang semula ingin mengatakan semua ini ia persiapkan untuk Rara namun berubah menjadi angan semata karena ia tak mampu merusak perasaan sosok tercinta di depannya yang terlihat merona bahagia tanpa diketahuinya bahwa sosok didepannya bingung akan perasaannya yang tak mampu diterjemahkannya sendiri pada siapa perasaannya akan berlabuh karena terlalu dini baginya.
"Lalu apa kamu udah ngasih jawaban ke Rey" Jawab Awan datar.
"Rara bingung kak, Kakak kenapa?Kakak sakit?" tanya Rara bingung.
"Gak kenapa-napa Ra,sebenarnya dinner ini untuk perempuan spesial tapi nampaknya dia gak akan pernah datang" Jawab Awan berusaha tersenyum.
"Maaf Rara gak tau kak,tapi diluar sana banyak kok perempuan yang mau sama kakakku yang tampan dan baik hati ini,ayo kakak dinner sama Rara aja ya.."Ucap Rara mengganteng Awan ke meja makan.
"Hhmmm,Rey itu lelaki yang baik kok dek..."ucap Awan singkat
"Jadi Rara harus menerima Abang Rey ya kak"tanya Rara bingung
"Itu cuma saran dari kakak loh Ra" jawab Awan sambil memakan hidangannya.
Malam yang diinginkan Awan terwujud namun tak berlatarkan romantisme yang diinginkan dan Awan memilih untuk menyimpan cintanya entah sampai kapan karena ia tak ingin membuat Rara menjadi dilema akan semuanya.Mereka melewati malam dengan berlatarkan kebisuan tanpa ada banyak yang mereka perbincangkan.Sekali-kali mereka hanya bertatapan dan menebar senyum dan senyum yang mampu mengobati perasaan Awan yang tak tersampaikan maksudnya.
"Kamu keliatannya capek ya Ra,"tanya Awan
"Iya kak kegiatan disana padat sekali"jawab Rara
"Ya udah ayo istirahat,kamu nginap disini saja dikamar kosong yang biasa kamu tempati"
Awan membiarkan Rara menyusuri dan menuruni anak tangga perlahan-lahan terlebih dahulu dan mengamati setiap pandangan mata yang hanya ia tujukan pada Rara agar ia bisa menikmati sosok yang ia lama rindukan berada dekat dengannya,namun ia mereka sosok ini akan segera meninggalkannya karena telah ada sosok lain yang kapan saja bisa merenggut cintanya ini dengan perasaannya juga.Tiba-tiba suasana hening itu pecah dikarenakan kaki Rara saat melangkah menginjak anak tangga yang salah dan hampir terjatuh dan seketika Awan menggapai tubuh Rara yang hampir terjatuh.Seketika waktu menjadi terhenti dan mata dua insan itupun berpaut tanpa sengaja dan detak jantung keduanya berpacu diluar dari normal karena ada perasaan yang tak mampu dilogikakan menghampiri mereka.Tutur kata pun tak mampu bersuara untuk menganggu kebersamaan mereka yang membuat mereka tak berkutik.
"Kamu tidak apa-apa Rara?kamu baik-baik saja kan?"ucap Awan memecahkan kebisuan.
"Tidak kak,mungkin ini faktor kecapean"Rara melirik Awan yang masih menopang tubuhnya.
"Hmmm,maafkan kakak Ra" segera melepaskan tangannya dari tubuh Rara
"Iya gak apa-apa kak,Rara masuk ke kamar duluan ya kak,makasih atas pertolongannya" jawab Rara sambil berlalu dari Awan.
"Aku menyukaimu Rara" ucap Awan lirih saat Rara menjauh.
Awan hanya terpaku dan matanya masih menatap siluet Rara yang makin menjauh darinya.Di sudut lain Rara menyandarkan tubuhnya ke dinding dan merenungkan seluruh fikiran yang berkecamuk dihatinya dan ia terpekur lama untuk memaknainya.
"Kenapa Kak Awan tiba-tiba berbeda?Apakah ia menyiapkan ini untukku?Kenapa aku merasakan hal yang berbeda saat ia mendekap menyelamatkanku tadi?Ah,sudahlah ini gak mungkin"
Rara menyimpan seluruh gumaman kedalam malam yang larut dan membawanya ke dalam mimpi berharap waktu yang bisa menerjemahkan semuanya, malam itu mereka lewati dengan perasaan yang tak bisa mereka jelaskan apakah merupakan sebuah kebahagiaan atau kesemuan belaka
"Kakak,apakah Rara membuat kakak lama..........................."Rara tersentak melihat Awan "Kakak mau dinner sama siapa dan pakaian serapi itu" Tanya Rara bingung
"Hmmm,ini kakak persiapan untuk...hhmmmm"jawab Awan singkat
"Kakak kok gugup gitu,kakak mau melamar perempuan ya?"goda Rara pada Awan.
"Tidak Ra,kakak mempersiapkan ini untuk................."ucapan Awan terhenti.
"Kakak,tahu gak Bang Rey nembak Rara tadi?"
Ucapan Rara mengejutkan Awan yang semula ingin mengatakan semua ini ia persiapkan untuk Rara namun berubah menjadi angan semata karena ia tak mampu merusak perasaan sosok tercinta di depannya yang terlihat merona bahagia tanpa diketahuinya bahwa sosok didepannya bingung akan perasaannya yang tak mampu diterjemahkannya sendiri pada siapa perasaannya akan berlabuh karena terlalu dini baginya.
"Lalu apa kamu udah ngasih jawaban ke Rey" Jawab Awan datar.
"Rara bingung kak, Kakak kenapa?Kakak sakit?" tanya Rara bingung.
"Gak kenapa-napa Ra,sebenarnya dinner ini untuk perempuan spesial tapi nampaknya dia gak akan pernah datang" Jawab Awan berusaha tersenyum.
"Maaf Rara gak tau kak,tapi diluar sana banyak kok perempuan yang mau sama kakakku yang tampan dan baik hati ini,ayo kakak dinner sama Rara aja ya.."Ucap Rara mengganteng Awan ke meja makan.
"Hhmmm,Rey itu lelaki yang baik kok dek..."ucap Awan singkat
"Jadi Rara harus menerima Abang Rey ya kak"tanya Rara bingung
"Itu cuma saran dari kakak loh Ra" jawab Awan sambil memakan hidangannya.
Malam yang diinginkan Awan terwujud namun tak berlatarkan romantisme yang diinginkan dan Awan memilih untuk menyimpan cintanya entah sampai kapan karena ia tak ingin membuat Rara menjadi dilema akan semuanya.Mereka melewati malam dengan berlatarkan kebisuan tanpa ada banyak yang mereka perbincangkan.Sekali-kali mereka hanya bertatapan dan menebar senyum dan senyum yang mampu mengobati perasaan Awan yang tak tersampaikan maksudnya.
"Kamu keliatannya capek ya Ra,"tanya Awan
"Iya kak kegiatan disana padat sekali"jawab Rara
"Ya udah ayo istirahat,kamu nginap disini saja dikamar kosong yang biasa kamu tempati"
Awan membiarkan Rara menyusuri dan menuruni anak tangga perlahan-lahan terlebih dahulu dan mengamati setiap pandangan mata yang hanya ia tujukan pada Rara agar ia bisa menikmati sosok yang ia lama rindukan berada dekat dengannya,namun ia mereka sosok ini akan segera meninggalkannya karena telah ada sosok lain yang kapan saja bisa merenggut cintanya ini dengan perasaannya juga.Tiba-tiba suasana hening itu pecah dikarenakan kaki Rara saat melangkah menginjak anak tangga yang salah dan hampir terjatuh dan seketika Awan menggapai tubuh Rara yang hampir terjatuh.Seketika waktu menjadi terhenti dan mata dua insan itupun berpaut tanpa sengaja dan detak jantung keduanya berpacu diluar dari normal karena ada perasaan yang tak mampu dilogikakan menghampiri mereka.Tutur kata pun tak mampu bersuara untuk menganggu kebersamaan mereka yang membuat mereka tak berkutik.
"Kamu tidak apa-apa Rara?kamu baik-baik saja kan?"ucap Awan memecahkan kebisuan.
"Tidak kak,mungkin ini faktor kecapean"Rara melirik Awan yang masih menopang tubuhnya.
"Hmmm,maafkan kakak Ra" segera melepaskan tangannya dari tubuh Rara
"Iya gak apa-apa kak,Rara masuk ke kamar duluan ya kak,makasih atas pertolongannya" jawab Rara sambil berlalu dari Awan.
"Aku menyukaimu Rara" ucap Awan lirih saat Rara menjauh.
Awan hanya terpaku dan matanya masih menatap siluet Rara yang makin menjauh darinya.Di sudut lain Rara menyandarkan tubuhnya ke dinding dan merenungkan seluruh fikiran yang berkecamuk dihatinya dan ia terpekur lama untuk memaknainya.
"Kenapa Kak Awan tiba-tiba berbeda?Apakah ia menyiapkan ini untukku?Kenapa aku merasakan hal yang berbeda saat ia mendekap menyelamatkanku tadi?Ah,sudahlah ini gak mungkin"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar