Sabtu, 29 Oktober 2016

Cerpen:Adore You, My Brother Chapter 1

Chapter 1:Love u, Dek

Langit pada sore itupun seolah bersorak bersama mendung serta titik-titik hujan mulai turun membasahi bumi yang sedang bereuforia bersama dengan sosok yang ikut menikmati hujan yang menari perlahan membasahi pesonanya.
Tampak ia yang tanpa senyum berparas kebekuan bukan karena tertusuk dinginnya hujan tapi perasaan sudah melepas namun saat dihadapan dengan pribadi yang menerkam hatinya lalu menghempaskannya yang membuatnya merasa lebih menghujam menusuk kejam hatinya dibanding kejamnya hujan yang membuatnya pasi berada dibawah rintikannya.
“Kenapa harus bertemu lagi” gumam singkatnya yang bahkan rintik hujan serta angin tak akan bisa mendengar lirihan tersebut dari Rara, iya ialah Rara yang pada hari itu saat berjalan pulang hujan berhasil mengejar dan membasahinya serta dihujam pertemuan yang tak ia pernah inginkan lebih membuat dingin hatinya tidak hanya tubuhnya yang dihujam dinginnya hujan.
Ia hempaskan tubuhnya pada tempat tidur sesampainya dirumah membiarkan bajunya yang basah membasahi sekitarnya dan menutup matanya dengan harapan ia bisa terbawa pada lupa akan apa yang ia temui tadi bermacam anganpun mulai menari bersamanya memori-memori yang telah ia usir memaksa kembali datang beserta sesalnya kenapa ia bisa menjadi ceroboh sehingga virus bernama harapan,percaya tinggi,dan angan-angan saja mampu menjatuhkannya.
“Ra,kamu harus berfikir ulang mengenai ini jangan sampai perasaanmu buat kamu gak bisa berfikir pake logika lagi,please dech Ra” Ucap laki-laki secara tak begitu jelas karena sambil menikmati cokelat yang tak pernah lepas darinya.
“Please juga dech kak,aku ini gak ada maksud dekat ama dia dan udah jaga jarak...”
“Tapi kenyataannya sekarang beda kamu udah ikut-ikutan menuruti perasaan kepedeanmu saja bukan rasional” potong dia sambil masih mengunyah cokelat.
“Aduh,kakakku sayang,jangan begini.Aku masih berfikir secara baik-baik kok jangan khawatirkan aku ya” jawab Rara sambil mencubit pipi sosok yang duduk disampingnya dengan raut muka tidak percaya.
“Udah ya aku mau keluar dulu beli makan udah dari siang kita ngerjakan tugasnya dan belum makan,dadaaahhh kakak sayang!” ucap Rara sambil berlalu melewati sosok tersebut.
Namun tiba-tiba langkah Rara terhenti dan terhentak oleh tarikan dari laki-laki tersebut yang meraih tangan Rara secara tiba-tiba dan menghempaskan cokelat ditangannya diiringi dengan tatapan mata yang mengisyaratkan sesuatu yang Rara tangkap dengan kebingungan.
“Kenapa kakak menatapku seperti ini” Batin Rara.

“Semua tau bahwa dia udah punya tunangan..Tunangan! dan nantinya ia hanya akan bilang bahwa ia hanya ingin menjadi temanmu saja gak lebih bukalah dirimu untuk orang lain bukan untuk dekat dengan dia”


Rara menarik keras tangannya dari genggaman itu dan pergi melewatinya dengan membawa wajah kesal tanpa mengeluarkan sepatah katapun.Itulah Awan sahabat masa kecilnya hingga sekarang yang terpaut usia 2 tahun lebih tua dari Rara yang baru saja setahun lulus dari perkuliahan.Orang lain terutama gadis-gadis akan cemburu dan menatap sinis hingga iri pada Rara yang bersama Awan terlihat bagai pasangan kekasih karena Awan memiliki penampilan sempurna untuk menjadi daya pikat bagi wanita.
Ingatan Rara pun melambung ke masa lalu masa dimana ia melewati masa kecilnya hanya bersama Tante Cindy terutama Awan yang selalu ada bersamanya menghapus tangisan Rara kecil saat malam hari dan membuat tawa Rara saat ada bersamanya.Bagi Rara, Awan adalah sosok kakak yang selalu ada bersamanya saat waktu telah merenggut seluruh keluarganya dalam sebuah kecelakaan saat Rara kecil.Awan adalah sosok yang memberi Rara kasih sayang seorang Ayah serta Kakak sekaligus perhatian dari sahabat. Pada saat itu langit mendung memayungi Rara kecil yang menatap kosong tanah pemakaman ayah,ibu,serta kakak kandung satu-satunya yang basah oleh rintikan hujan tak ada air mata pada wajah cantik Rara namun ia mengerti bahwa ia sekarang hanya sebatang kara bertemankan kesedihan saat Rara tertunduk datanglah perasaan hangat yang memeluknya ternyata itu adalah pelukan dari seorang Awan yang menenangkan Rara kecil dan merengkuh Rara dalam dekapannya dan membawa Rara pada kehidupan yang ia rancang penuh kasih sayang untuk Rara hingga mereka berdua telah dewasa dan ia harapkan berlangsung selamanya.
Awan bersama Tante Cindy adalah tetangga dekat Rara yang sudah menganggap Rara adalah keluarga mereka. Awan juga berlatar belakang anak yang yatim piatu sehingga tidak ingin Rara juga merasakan apa yang ia rasakan selalu menjaga Rara hingga mereka tumbuh dewasa bersama-sama.Rara menjadi sosok adik yang merupakan mahasiswa semester awal dan Awan yang sudah lebih dewasa d mengelola perusahaan mendiang ayahnya.Sedangkan Tante Cindy adalah desainer ternama yang juga merupakan warisan dari mendiang ibu Awan yang masih ia teruskan.
Walau perkataan Awan kemarin membuat Rara marah namun ia tahu bahwa itu adalah perhatian dari seseorang kakak yang tak ingin adiknya menangis apalagi tersakiti. Saat pagi masih malu-malu menunjukkan sinar matahari, Rara terlihat pergi menuju rumah Awan yang berjarak 2 rumah saja dari rumahnya dengan langkah ragu dan sedikit cepat.
“Semoga kakak tidak marah padaku”ucap rara sebelum mengetuk pintu dan tiba-tiba pintu terbuka dan mengenai kepala Rara.
“Aduh,kakak kepalaku sakit nich!” ucap Rara kesal sambil memegang kepalanya dan Rara mengerti Awan hanya mematung menatapnya.”Kakak masih marah ama aku ya?ini aku bawain cokelat kesukaan kakak” tanya Rara dengan wajah senyum memelas pada Awan.
“Tidak,aku tidak marah padamu” sahut Awan singkat.
“Kalau kakak tidak marah kenapa kakak tidak mengusap kepalaku yang kena pintu itu tadi dan mengambil cokelat ini”tanya Rara hampir ingin menangis.
“Baiklah..Baiklah, aku ambil cokelat ini jangan menangis” jawabnya sambil mengambil cokelat dan mengusap kepala Rara dengan kasih sayang”
“Horeeee,,ayo kakak kita masuk kedalam rumah dan sarapan sebelum berangkat kerja”ucap Rara sambil mengandeng tangan Awan yang hanya bisa tersenyum dengan tatapan penuh arti.
"Awan,Rara kenapa matanya kayak habis nangis gitu?"Tanya Tante Cindy sambil menyiapkan sarapan mereka
"Biasa tante dia nangis takut kakaknya ini gak maafin dia"jawab Awan sambil tertawa
"Gak gitu tante,abis kakak marah gak jelas kemarin" jawab Rara memelas
"Awan,kamu apain adikmu itu seharusnya gak boleh dimarahi"Tanya Tante Cindy tegas
"Hmmm,,,anak manja, karena Awan sayang ama dia tante"
Tante Cindy hanya tersenyum melihat Rara yang tiba-tiba terbatuk saat meminum jusnya saat mendengar jawaban Awan dan Awan tertawa serta Tante Cindy memperhatikan Awan lebih seksama dan memaknai ucapan Awan bukan sekedar ucapan biasa baginya."Iya dong,kakak Awan itu emang perhatian ke adiknya yang manis ini"
Rara tiba-tiba memeluk Awan dan Tante Cindy dengan tangan memegang roti untuk dibawanya pergi kuliah dan berlari-lari terburu-buru keluar rumah untuk segera masuk ke mobil Awan yang selalu mengantarkannya.
"Hmmm....Hmmm...Awan...Awan kenapa kamu mematung gitu"tegur Tante Cindy
"Gak kenapa-napa tante"Jawab Awan kebingungan
"Sudah cepat selesaikan sarapanmu,Adikmu yang tersayang tak bisa menunggu lama dimobil tuh"
Awan segera menyelesaikan sarapannya lalu berpamitan ke Tante Cindy untuk mengantar dan pergi bekerja ke perusahaan.Pada saat Awan ingin menuju gerbang Tante Cindy tersenyum pada Awan seolah ia memahami sesuatu yang terjadi pada keponakannya.
"Kak,tante kenapa senyum gitu ke kakak?"tanya Rara heran
"Jadi tante Cindy harus pasang tampang cemberut ke kakak gitu dek?" jawab Awan sambil mengendarai mobil
"ya kayak ada yang beda gitu kak"sahut Rara singkat.
Suasana pun hening saat perjalanan yang mereka lewati hanya ada gumaman dalam benak Awan yang tak akan Rara ketahui entah sampai kapan hingga saat dimana Awan akan menyatakannya.

"Love u, dek"gumam Awan dalam hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar