Chapter 1:Love u, Dek
Langit pada sore itupun seolah bersorak bersama mendung serta
titik-titik hujan mulai turun membasahi bumi yang sedang bereuforia bersama
dengan sosok yang ikut menikmati hujan yang menari perlahan membasahi
pesonanya.
Tampak ia yang tanpa senyum berparas kebekuan bukan karena tertusuk dinginnya
hujan tapi perasaan sudah melepas namun saat dihadapan dengan pribadi yang
menerkam hatinya lalu menghempaskannya yang membuatnya merasa lebih menghujam
menusuk kejam hatinya dibanding kejamnya hujan yang membuatnya pasi berada
dibawah rintikannya.
“Kenapa harus bertemu lagi” gumam singkatnya yang bahkan rintik hujan
serta angin tak akan bisa mendengar lirihan tersebut dari Rara, iya ialah Rara
yang pada hari itu saat berjalan pulang hujan berhasil mengejar dan
membasahinya serta dihujam pertemuan yang tak ia pernah inginkan lebih membuat
dingin hatinya tidak hanya tubuhnya yang dihujam dinginnya hujan.
Ia hempaskan tubuhnya pada tempat tidur sesampainya dirumah membiarkan
bajunya yang basah membasahi sekitarnya dan menutup matanya dengan harapan ia bisa
terbawa pada lupa akan apa yang ia temui tadi bermacam anganpun mulai menari
bersamanya memori-memori yang telah ia usir memaksa kembali datang beserta
sesalnya kenapa ia bisa menjadi ceroboh sehingga virus bernama harapan,percaya
tinggi,dan angan-angan saja mampu menjatuhkannya.
“Ra,kamu harus berfikir ulang mengenai ini jangan sampai perasaanmu
buat kamu gak bisa berfikir pake logika lagi,please dech Ra” Ucap laki-laki
secara tak begitu jelas karena sambil menikmati cokelat yang tak pernah lepas
darinya.
“Please juga dech kak,aku ini gak ada maksud dekat ama dia dan udah
jaga jarak...”
“Tapi kenyataannya sekarang beda kamu udah ikut-ikutan menuruti
perasaan kepedeanmu saja bukan rasional” potong dia sambil masih mengunyah
cokelat.
“Aduh,kakakku sayang,jangan begini.Aku masih berfikir secara baik-baik
kok jangan khawatirkan aku ya” jawab Rara sambil mencubit pipi sosok yang duduk
disampingnya dengan raut muka tidak percaya.
“Udah ya aku mau keluar dulu beli makan udah dari siang kita ngerjakan
tugasnya dan belum makan,dadaaahhh kakak sayang!” ucap Rara sambil berlalu
melewati sosok tersebut.
Namun tiba-tiba langkah Rara terhenti dan terhentak oleh tarikan dari
laki-laki tersebut yang meraih tangan Rara secara tiba-tiba dan menghempaskan
cokelat ditangannya diiringi dengan tatapan mata yang mengisyaratkan sesuatu
yang Rara tangkap dengan kebingungan.
“Kenapa kakak menatapku seperti ini” Batin Rara.
“Semua tau bahwa dia udah punya tunangan..Tunangan! dan nantinya ia
hanya akan bilang bahwa ia hanya ingin menjadi temanmu saja gak lebih bukalah
dirimu untuk orang lain bukan untuk dekat dengan dia”
Rara menarik keras tangannya dari genggaman itu dan pergi melewatinya
dengan membawa wajah kesal tanpa mengeluarkan sepatah katapun.Itulah Awan sahabat
masa kecilnya hingga sekarang yang terpaut usia 2 tahun lebih tua dari Rara
yang baru saja setahun lulus dari perkuliahan.Orang lain terutama gadis-gadis
akan cemburu dan menatap sinis hingga iri pada Rara yang bersama Awan terlihat
bagai pasangan kekasih karena Awan memiliki penampilan sempurna untuk menjadi
daya pikat bagi wanita.
Ingatan Rara pun melambung ke masa lalu masa dimana ia melewati masa
kecilnya hanya bersama Tante Cindy terutama Awan yang selalu ada bersamanya
menghapus tangisan Rara kecil saat malam hari dan membuat tawa Rara saat ada
bersamanya.Bagi Rara, Awan adalah sosok kakak yang selalu ada bersamanya saat
waktu telah merenggut seluruh keluarganya dalam sebuah kecelakaan saat Rara
kecil.Awan adalah sosok yang memberi Rara kasih sayang seorang Ayah serta Kakak
sekaligus perhatian dari sahabat. Pada saat itu langit mendung memayungi Rara
kecil yang menatap kosong tanah pemakaman ayah,ibu,serta kakak kandung
satu-satunya yang basah oleh rintikan hujan tak ada air mata pada wajah cantik
Rara namun ia mengerti bahwa ia sekarang hanya sebatang kara bertemankan
kesedihan saat Rara tertunduk datanglah perasaan hangat yang memeluknya
ternyata itu adalah pelukan dari seorang Awan yang menenangkan Rara kecil dan
merengkuh Rara dalam dekapannya dan membawa Rara pada kehidupan yang ia rancang
penuh kasih sayang untuk Rara hingga mereka berdua telah dewasa dan ia harapkan
berlangsung selamanya.
Awan bersama Tante Cindy adalah tetangga dekat Rara yang sudah
menganggap Rara adalah keluarga mereka. Awan juga berlatar belakang anak yang
yatim piatu sehingga tidak ingin Rara juga merasakan apa yang ia rasakan selalu
menjaga Rara hingga mereka tumbuh dewasa bersama-sama.Rara menjadi sosok adik
yang merupakan mahasiswa semester awal dan Awan yang sudah lebih dewasa d
mengelola perusahaan mendiang ayahnya.Sedangkan Tante Cindy adalah desainer
ternama yang juga merupakan warisan dari mendiang ibu Awan yang masih ia
teruskan.
Walau perkataan Awan kemarin membuat Rara marah namun ia tahu bahwa
itu adalah perhatian dari seseorang kakak yang tak ingin adiknya menangis
apalagi tersakiti. Saat pagi masih malu-malu menunjukkan sinar matahari, Rara
terlihat pergi menuju rumah Awan yang berjarak 2 rumah saja dari rumahnya
dengan langkah ragu dan sedikit cepat.
“Semoga kakak tidak marah padaku”ucap rara sebelum mengetuk pintu dan
tiba-tiba pintu terbuka dan mengenai kepala Rara.
“Aduh,kakak kepalaku sakit nich!” ucap Rara kesal sambil memegang
kepalanya dan Rara mengerti Awan hanya mematung menatapnya.”Kakak masih marah ama
aku ya?ini aku bawain cokelat kesukaan kakak” tanya Rara dengan wajah senyum
memelas pada Awan.
“Tidak,aku tidak marah padamu” sahut Awan singkat.
“Kalau kakak tidak marah kenapa kakak tidak mengusap kepalaku yang
kena pintu itu tadi dan mengambil cokelat ini”tanya Rara hampir ingin menangis.
“Baiklah..Baiklah, aku ambil cokelat ini jangan menangis” jawabnya
sambil mengambil cokelat dan mengusap kepala Rara dengan kasih sayang”
“Horeeee,,ayo kakak kita masuk kedalam rumah dan sarapan sebelum
berangkat kerja”ucap Rara sambil mengandeng tangan Awan yang hanya bisa
tersenyum dengan tatapan penuh arti.
"Awan,Rara kenapa matanya kayak habis nangis gitu?"Tanya
Tante Cindy sambil menyiapkan sarapan mereka
"Biasa tante dia nangis takut kakaknya ini gak maafin dia"jawab
Awan sambil tertawa
"Gak gitu tante,abis kakak marah gak jelas kemarin" jawab
Rara memelas
"Awan,kamu apain adikmu itu seharusnya gak boleh
dimarahi"Tanya Tante Cindy tegas
"Hmmm,,,anak manja, karena Awan sayang ama dia tante"
Tante Cindy hanya tersenyum melihat Rara yang tiba-tiba terbatuk saat
meminum jusnya saat mendengar jawaban Awan dan Awan tertawa serta Tante Cindy
memperhatikan Awan lebih seksama dan memaknai ucapan Awan bukan sekedar ucapan
biasa baginya."Iya dong,kakak Awan itu emang perhatian ke adiknya yang
manis ini"
Rara tiba-tiba memeluk Awan dan Tante Cindy dengan tangan memegang
roti untuk dibawanya pergi kuliah dan berlari-lari terburu-buru keluar rumah
untuk segera masuk ke mobil Awan yang selalu mengantarkannya.
"Hmmm....Hmmm...Awan...Awan kenapa kamu mematung gitu"tegur
Tante Cindy
"Gak kenapa-napa tante"Jawab Awan kebingungan
"Sudah cepat selesaikan sarapanmu,Adikmu yang tersayang tak bisa
menunggu lama dimobil tuh"
Awan segera menyelesaikan sarapannya lalu berpamitan ke Tante Cindy
untuk mengantar dan pergi bekerja ke perusahaan.Pada saat Awan ingin menuju
gerbang Tante Cindy tersenyum pada Awan seolah ia memahami sesuatu yang terjadi
pada keponakannya.
"Kak,tante kenapa senyum gitu ke kakak?"tanya Rara heran
"Jadi tante Cindy harus pasang tampang cemberut ke kakak gitu
dek?" jawab Awan sambil mengendarai mobil
"ya kayak ada yang beda gitu kak"sahut Rara singkat.
Suasana pun hening saat perjalanan yang mereka lewati hanya ada
gumaman dalam benak Awan yang tak akan Rara ketahui entah sampai kapan hingga
saat dimana Awan akan menyatakannya.
"Love u, dek"gumam Awan dalam hatinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar