Chapter 2: Kakak Cemburu,Ra!
“Aku jadi pemandu pelatihan di
kelomp
ok mana dan lokasi mana ya? Ucap Rara sambil membaca daftar pembagian di mading.
ok mana dan lokasi mana ya? Ucap Rara sambil membaca daftar pembagian di mading.
“Rara Fransiska menjadi pemandu
pelatihan di kelompok 18 Desa Rawa Buaya” Ucap laki-laki berkacamata yang
membuat Rara langsung menoleh padanya.
“Anda siapa ya Pak? Tapi, terima
kasih sudah menemukan nama saya di daftar ini” sahut Rara sambil mengulurkan
tangan.
“ Nama saya Rey,iya saya lihat
kamu belum menemukan namamu dari tadi”jawabnya sambil menjabat tangan Rara.
“Ah,hampir lupa bapak tau
darimana nama saya?”tanya Rara penasaran.
“Kamu kan sering pergi ke
perpustakaan disamping laboratorium itu kan kebetulan saya juga menjadi staf
disana selain laboratorium”jawabnya tersenyum.
“Oh iya saya baru ingat bapak ini
ternyata staf pengelola anggota perpus itu....”
Perkataan Rara terpotong saat
mata mereka berdua beradu pandang pada tangan mereka yang masih bergenggaman
seolah tidak hanya menjadi perkenalan tapi akan menjadi lebih dan dengan
berhiaskan rasa canggung mereka melepaskan dan berusahan mengusir hening antara
mereka.
“Maafkan saya tidak bermaksud
untuk....?
“Tidak apa-apa pak,Oh ya bapak
ngapain liat daftar ini?Apa bapak juga jadi pemandu?” tanya Rara
“Sebelumnya jangan panggil saya
bapak karena masih seusiamu dan saya juga masuk jadi pemandu wakil dari perpus
gitu dech” Ucap Rey sambil sedikit tersenyum
Perkenalan berbau romantisme itu
berakhir saat datang Awan menjemput Rara untuk mengantarnya pulang ke rumah
karena hari sudah menginjak siang dan tidak ada lagi jam perkuliahan. Awan
melihatkan sikap dingin terhadap kedekatan Rara dan Rey yang semakin hari
semakin erat terhubung oleh pertemuan dan komunikasi antara mereka berdua
hingga seperti hari yang lalu Awan dan Rara bertengkar.
“Rara, mukamu kenapa kok cemberut
gitu?Tanya Rey penasaran.
“Gak kenapa-napa bang,Cuma lagi
berantem sama kak Awan”jawab Rara singkat.
“Rara,Awan marah pasti karena dia
gak mau kamu kenapa-napa itu tandanya perhatian loh”Goda Rey
“Ah,kak Awan itu emang sering
over gitu ama Rara.Oh ya,nanti jadwal kita ke desa tanggal 21 Januari ya
bang?Tanya Rara sambil mengalihkan pembicaraan.
“Iya tapi agak malas nich pergi
ke Rawa Bintung tanpa ada temennya,Rara mau gak bareng abang gak untuk pelatihan
itu nanti? Tanya Rey.
Rara memalihkan wajahnya menatap
sekeliling sambil tersipu-sipu malu untuk menerima ajakan Rey yang memang telah
ia tunggu.
“Rara mau bang tapi nanti adek
tingkat si Richma cemburu loh dia kan juga dekat ama abang?”Goda Rara
“Rara,abang dan Richma tidak ada
apa-apa,abang cuma jadi tempat curhat Richma yang lagi berantem ama pacarnya”
Tiba-tiba Richma masuk ke
perpustakaan untuk menemui dosen walinya dan staf perpustakaan lainnya menggoda
Rey dengan kedatangan Richma yang melewati mereka menuju ke ruangan kepala
perpustakaan yang merupakan dosen walinya Richma.
“Ciiieee,si adek lewat tu...”Goda
Sandy ke Rey dengan berbisik.
“Wahhhh,cantik juga si adek itu
ya..”Ucap Risa hampir tertawa kepada Rey.
“Nama si adek itu Adek Richma
Mbak Risa”Jawab Rara sambil menatap Rey.
“Ah, Rara kok malah ikut-ikutan
juga sich”Jawab Rey sedikit kesal.
Perpustakaan itupun penuh dengan
tawa mereka terhadap Rey yang mukanya terlihat tersipu merah saat Richma
melewati dirinya dan mata mereka sempat bertemu tapi entah tak ada yang mampu
menafsirkan arti dari itu hanya Rey dan Richma yang memahami apa yang terjadi
antara mereka. Saat itu Rara hanya berusaha mengukir senyum namun tanpa
siapapun sadari Bahwa Rara dalam ketidak perhatian Rey sering menatap Rey yang
jika diartikan bahwa memiliki perasaan pada Rey.
“Mbak Risa, bang Rey masih jomblo
ya?” Tanya Rara pada Risa saat mereka sedang menyiapkan materi pelatihan
“Hhhmmm,setahu mbak sich dia itu
tertutup urusan percintaannya,Ra” jawab Risa singkat.
Dan tiba-tiba Risa berhenti
mengetik dan menatap Rara serius.
“Apa kamu menyukai Rey,dek?”
Tanya Risa Serius
“Aku gak tau mbak mungkin aku menyukainya
dan Abang Rey sepertinya juga menyukaiku mbak dilihat dari dia baik dan ngajak
aku nemenin dia mbak” Jawab Rara malu-malu.
“Rara,mbak gak ngelarang kamu
buat suka ama dia,tapi hati-hati ya dek jangan terlalu baper kalo gak sesuai
nantinya gimana?” Ucap Risa
“Ihhh,mbak kayak Kak Awan dech
juga pasti bilang gitu,tapi itu gak mungkin terjadi kok mbak”Jawab Rara
optimis.
Rara berlalu dengan riangnya
melewati Risa yang hanya bisa menatap berhiaskan ketakutan jika nantinya Rara
hanya terbawa perasaannya terhadap Rey yang selama ini teman-temannya lihat Rey
memang terkenal dekat dengan siapa saja tanpa ada yang tahu mengenai hubungan
pribadinya terutama terkait hubungan dengan lawan jenis. Rara bergegas masuk
kedalam rumah Rey karena teringat akan janji untuk makan siang bersama dirumah
Rey.Saat menuju dimeja makan, Rara melihat Awan telah duduk dikursi dan meja
dihadapannya telah tersaji berbagai makanan sambil menunggu Rara yang tidak
kunjung datang.
“Maafkan Rara ya kak atas
keterlambatan Rara hari ini?” memelas pada Awan sambil memegang telinganya
seperti anak kecil yang sedang dihukum.
“Sampai kamu lupakan jadwal makan
siang kita karena kamu sibuk sebagai steering dan juga karena selalu bersama
Rey...”Ucap Awan sambil menyilangkan tangannya.
“Kakak jangan mulai bahas itu
lagi donk kak,oh ya mengenai Rey tadi dia ajak Rara untuk nemani dia ke lokasi
pelatihan yang dia pandu loh kak”Jawab Rara girang sambil mengambilkan makanan
untuk Awan.
“Oh,jadi kamu sangat senang
mendapat kesempatan itu,kakak harap kamu jangan terlalu baper dan dia juga
tidak pernah mengatakan ingin menjalin hubungan serius denganmu” jawab Awan
dengan tetap tenang tak ingin terbawa perasaannya.
“Semua itu kan perlu proses
kak,kakak percaya saja deh Rey gak akan menyakiti adek kesayangmu ini”
“Kakak sudah kenyang nih mau
kembali ke tempat kerja saja”Awan berlalu tanpa bicara sambil menatap Rara
begitu dalam.
“Kak,kok makannya cuma sedikit
saja nanti sakit?jangan ngambek kak nanti Rara belikan cokelat untuk kakak
ya.....”Ucap Rara setengah berteriak kepada Awan.
“Aku semakin gak mengerti kenapa
kakak menatapku seperti itu membuatku jadi melted lagi”Batin Rara
Keesokan harinya, Rey telah
datang untuk menjemput Rara untuk pergi bersama-sama ke Rawa Bintung. Awan yang
baru ingin berangkat kerja berpapasan dengan Rey saat ingin melewati rumah Rara
dan Awan pun menghentikan mobilnya dan langsung keluar menemui Rey.
“Awan,gue minta izin ya untuk
ngajak Rara temenin gue ke lokasi pelatihan hari ini?” Ucap Rey pada saat
melihat Awan
Awan menatap Rey dan tetap
membisu tak menjawab pertanyaan Rey.
“Awan, kok loe diem?Gue bolehkan
bawa Rara akan gue jagain Rara deh...”Goda Rey
“Jangan elo sakitin
Rara....”Jawab Awan serius.
“ya ampun Wan,gue ini sahabat
lama elo dari SMA kayak gak kenal gue aja loh”
“Gue tau elo gak pernah niat
menjalin hubungan ama cewek”Jawab Awan sedikit ketus.
“Maksud loe apa Wan ngomong
gitu?Elo gak suka gua dekat ama Rara!!!!”
Suasana yang masih pagi itu
menjadi hening dan menjadi tebaran emosi yang akan membuatnya pagi itu pergi
dan tiba-tiba kedatangan Rara yang menghampiri mereka menjadi penghalang emosi
yang ingin mengusir pagi yang masih membawa kesejukannya.
“Loh ini kenapa mukanya kok pada
tegang gini”lirik Rara pada mereka berdua dengan penasaran.
“Tidak apa-apa Rara,kamu sudah
siap sini barang-barangya saya bawakan ke dalam mobil”Jawab Rey sambil
mengambil barang milik Rara membawanya ke mobil
“Abang duluan saja ya,Rara mau
ngomong ama Kak Awan sebentar”
“Ok Ra,Awan gue ke mobil duluan
ya dan gue akan jaga Rara”
Rey pun berlalu memberi celah
pribadi mereka untuk berbicara.
“Kak,Rara izin pergi ama Rey ya
hari ini?”Ucap Rara pada Awan yang mematung.
“Pergi saja sana aku juga gak
berhak melarangmu”jawab Awan datar sambil melangkah memasuki mobilnya
“Kak,tunggu ini cokelat untuk
kakak”menaruh cokelat ditangan Awan yang hanya mengangguk pelan.
“Kak,Rara mau berangkat sekarang”
ucap rara tak beranjak dari tempatnya berdiri
Awan tak merespon perkataan Rara
tersebut langsung pergi bersama mobilnya, Rara hanya berdiri terdiam dan matanya
terasa dipenuhi kabut yang ingin meneteskan air matanya melihat sikap Awan pagi
ini seolah-olah mengatakan tidak untuk dirinya pergi bersama Rey,Lamunan Rara
pecah saat Rey memanggil Rara dari dalam mobil mereka dan mereka pun
berangkat.Di dalam Rara tak banyak mengeluarkan bicaranya seperti biasa yang
selalu berhiaskan senyum manisnya.
“Tenanglah Rara, Awan tak akan
berlama-lama bersikap seperti itu dan karena dia sangat mengkhawatirkanmu” ucap
Rey berusaha menenangkan kegelisahan Rara.
Dikantornya,Awan tak bisa fokus
dengan laporan yang diserahkan karyawannya dan memutuskan untuk pulang kerumah
lebih awal karena perasaannya yang mencemaskan Rara yang pergi bersama Rey tadi
pagi.
“Andai kamu mengerti, Ra” ucap
Awan lirih sambil menatap cokelat ditangannya.
“Kamu mencemaskan Rara ya?”Tanya
perempuan yang menghampirinya di taman.
“Iya tante tapi Rara tak
memahaminya”Jawab Awan
“Dari sorot matamu tante tau kamu
menyukai Rara lebih dari sekedar kakak ke adik” Senyum Tante Cindy pada Awan
“Awan,tante ini sudah merawatmu
dari kecil jadi tante tau akan semua hal tentang dirimu”senyum tante sambil
menenangkan Awan. “Rara akan baik-baik saja dan tanyakan keadaannya
sekali-kali”
“Ra,sini abang bantu ngatur
pemateri untuk hari ini siapa saja”Ucap Rey
“Gak usah bang ini kan tugas saya
kan abang bagian ngatur panitia perlengkapannya”jawab Rara
“iya deh tapi kalau perlu bantuan
bilang ya?”sahut Rey
“Bang,apa abang gak punya pacar
kan abang ini seumuran ama Kak Awan aja udah punya tunangan?”
“Ada sich Ra,dikenalin ortu abang
ama perempuan di luar kota”jawab Rey
“dijodohkan?terus abang setuju
gitu?”tanya Rara penasaran.
“haaa,kenapa Ra?ya gak setuju
abang kayak gak laku aja sampai dijodohkan”
“makanya cepat cari pacar
bang”jawab Rara
“wajahmu kok merah Ra?kamu
sakit?”tanya rey
“gak kenapa-napa bang,Rara nemuin
divisi acara dulu ya bang karena nanti malam kan setelah istirahat sore ini
materi lagi”Rara bergegas pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar