DIA
Di sudut ruangan yang
sepi bertahtakan langit yang begitu cerahnya tak mengusik perhatian sesorang
yang duduk termenung disudut kamarnya yang dia lakukan hanya menulis dan
menulis.Entahlah apa yang dia fikirkan dan luapkan semua lewat tulisannya itu.Sekali-kali
dia menatap kosong kearah jendela kamar berhiaskan kain yang sudah usang.Sorot
matanya tampak kosong dan nampak guratan-guratan lelah dari
mukanya.Kecantikannya tetap merona sekalipun wajahnya dilindungi oleh kabut kelelahan
dan kaku paras wajahnya.
Dia adalah perempuan yang
telah memilikki segalanya apa yang tidak orang lain dapatkan dalam kehidupan
yang sebenarnya hanyalah sebuah penyiksaan batin dan dirinya sendiri.Perempuan
yang hidup dengan materi-materi semu berupa keindahan di dalam pribadinya dan
berapa kesuksesan sederhana yang dia telah dapatkan dari dia dilukiskan menjadi
perempuan yang biasa yang tak mengerti bagaimana menggunakan retorika dan
kualitasnya sebagaimana mestinya dia melewati proses yang tidaklah mudah,banyak
sudah waktu yang dia berikan,air mata dari sosok suci dan eloknya dari
perhiasan dunia telah berurai saat pedih menyeruak serta pahit proses yang ia
lalui,perasaannya tidak dia perdulikan
lagi demi pengabdiannya pada proses tadi.
Dan dia telah
bermetamorfosis menjadi sosok elok yang luar biasa di kalangan yang membuatnya
berproses dengan seluruh curahan apa yang dimilikinya saat dia masih awam di
kalangannya itu,kini dia telah menjadi sosok yang tak terkira cantiknya dalam
hal berfikir dimana dia menyadari bahwa dia adalah panutan walau terkadang dia
tak sepenuhnya dinaungi kebijakan untuk mengatur segala egonya karena terlihat
di sekitar dia banyak jiwa-jiwa yang mengaguminya atas siapa dia di hari ini
yang bukan perempuan yang meneteskan berjuta-juta buih luka,kesedihan,kekecewaan
tapi dia menguburnya dijauh lubuk rasanya.Dia berdiri diatas logikanya dalam hal menapaki solusi-solusi diantara
uraian amanah-amanah untuknya.
Tapi,dia tak setegar dan
kuat jika mencoba kau mencoba menyelinap masuk ke dalam lubuk jiwa dan
kehidupannya saat dia menghabiskan seluruh jiwanya dalam kesendiriannya bersama
sepi yang perlahan-lahan makin penuh dan menyesakkan kalbu.Entahlah apakah yang
bisa mengobati kekosongan jiwa yang menjadi mimpi buruk yang tak berakhir dari
hari ke hari.Dia larut ke dalam hal-hal yang menghilangkan keindahan wajahnya
ketika berhiaskan senyuman yang dia urai dihadapan keramaian menjadi sosok yang
penuh derita bertemankan tulisan-tulisan yang beralaskan seluruh elegi
perasaanya yang tekubur di batin tanpa ada siapa yang ketahui selain dia.
“Sungguh jiwa yang usang ini
Ingin menemui kekuatan untuk bertahan
Sehingga bukan senyuman beku yang
selalu menghampiri
Fisik dan batin yang telah mati
bersamanya bermacam-macam luka dan penyiksaan
Mungkinkah pembalasan kejam yang telah
aku dapatkan
Saat aku datang menjadi sosok yang
telah rapuh dan tak tahu ke arah mana ku mengarakkan semua ini
Wahai,kakanda pujaan jiwaku yang berada
jauh dari lubuk kekosongan jiwa
Wahai,kakanda sosok yang belum adinda
ketahui faras dan tabiatmu
Datang,hampiri,dan peluklah adinda
dengan seluruh cinta yang telah lama adinda tunggu
Sebelum kekosongan menutupi nafas dan
jiwa yang tak pernah tahu mampu menahan sejauh mana gejolak kebekuan hati
Kakanda,khitbahlah adinda dengan
kesucian yang diberikan Sang Pencipta
Sudah lama adinda menanti kakanda dan
menjaga segala kekotoran fikiran
Inilah adinda sudah berada di titik
akhir pencarian kebahagiaan
Datanglah kakanda sebelum waktu lebih
cepat menghampiri untuk merenggut raga adinda
Di dalam sudut kebekuan dan kekosongan
yang dalam adinda menunggumu dimana pun kakanda berada”
Beruntai-untai sajak kepedihan dan memilukan kembali mengisi
baris-baris dikertas yang selalu menemani hari-hari yang terasa lambat yang dia
rasakan karena dia tak pernah merasakan kebahagiaan yang sejati dihidupnya
melainkan hanya hal-hal yang bersifat menyakiti bisa saja menghampiri tanpa dia
sadari karena jiwanya yang telah buta dan akan dia nikmati sebagai sebuah
ketulusan.
Dan hari yang merona
untuk mengantarkan kebahagiaan telah dia tutup dengan terbujur kaku dengan rona
cantik diwajahnya berhiaskan kepedihan dan kebekuan yang dialaminya di ruangan
yang menjadi saksi hidup atas waktu yang dihabiskan untuk menikmati kekosongan
jiwanya.Sekarang ruangan sederhana itu
menjadi pengantar dan saksi yang terakhir kalinya saat dia menutup mata
selama-lamanya pergi bersama berjuta kerinduan akan sosok yang selama ini ditunggunya
untuk menebus semua kepahitan yang telah dialaminya.Angin menyibakkan rambut
dan terlihat kecantikan rupanya saat dia tertidur untuk selamanya dan melepaskan
karya terakhir yang berada dipelukkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar