Jumat, 11 April 2014

Tulisanku

DIA
Di sudut ruangan yang sepi bertahtakan langit yang begitu cerahnya tak mengusik perhatian sesorang yang duduk termenung disudut kamarnya yang dia lakukan hanya menulis dan menulis.Entahlah apa yang dia fikirkan dan luapkan semua lewat tulisannya itu.Sekali-kali dia menatap kosong kearah jendela kamar berhiaskan kain yang sudah usang.Sorot matanya tampak kosong dan nampak guratan-guratan lelah dari mukanya.Kecantikannya tetap merona sekalipun wajahnya dilindungi oleh kabut kelelahan dan kaku paras wajahnya.
Dia adalah perempuan yang telah memilikki segalanya apa yang tidak orang lain dapatkan dalam kehidupan yang sebenarnya hanyalah sebuah penyiksaan batin dan dirinya sendiri.Perempuan yang hidup dengan materi-materi semu berupa keindahan di dalam pribadinya dan berapa kesuksesan sederhana yang dia telah dapatkan dari dia dilukiskan menjadi perempuan yang biasa yang tak mengerti bagaimana menggunakan retorika dan kualitasnya sebagaimana mestinya dia melewati proses yang tidaklah mudah,banyak sudah waktu yang dia berikan,air mata dari sosok suci dan eloknya dari perhiasan dunia telah berurai saat pedih menyeruak serta pahit proses yang ia lalui,perasaannya tidak  dia perdulikan lagi demi pengabdiannya pada proses tadi.
Dan dia telah bermetamorfosis menjadi sosok elok yang luar biasa di kalangan yang membuatnya berproses dengan seluruh curahan apa yang dimilikinya saat dia masih awam di kalangannya itu,kini dia telah menjadi sosok yang tak terkira cantiknya dalam hal berfikir dimana dia menyadari bahwa dia adalah panutan walau terkadang dia tak sepenuhnya dinaungi kebijakan untuk mengatur segala egonya karena terlihat di sekitar dia banyak jiwa-jiwa yang mengaguminya atas siapa dia di hari ini yang bukan perempuan yang meneteskan berjuta-juta buih luka,kesedihan,kekecewaan tapi dia menguburnya dijauh lubuk rasanya.Dia berdiri diatas logikanya   dalam hal menapaki solusi-solusi diantara uraian amanah-amanah untuknya.
Tapi,dia tak setegar dan kuat jika mencoba kau mencoba menyelinap masuk ke dalam lubuk jiwa dan kehidupannya saat dia menghabiskan seluruh jiwanya dalam kesendiriannya bersama sepi yang perlahan-lahan makin penuh dan menyesakkan kalbu.Entahlah apakah yang bisa mengobati kekosongan jiwa yang menjadi mimpi buruk yang tak berakhir dari hari ke hari.Dia larut ke dalam hal-hal yang menghilangkan keindahan wajahnya ketika berhiaskan senyuman yang dia urai dihadapan keramaian menjadi sosok yang penuh derita bertemankan tulisan-tulisan yang beralaskan seluruh elegi perasaanya yang tekubur di batin tanpa ada siapa yang ketahui selain dia.
“Sungguh jiwa yang usang ini
Ingin menemui kekuatan untuk bertahan
Sehingga bukan senyuman beku yang selalu menghampiri
Fisik dan batin yang telah mati bersamanya bermacam-macam luka dan penyiksaan
Mungkinkah pembalasan kejam yang telah aku dapatkan 
Saat aku datang menjadi sosok yang telah rapuh dan tak tahu ke arah mana ku mengarakkan semua ini
Wahai,kakanda pujaan jiwaku yang berada jauh dari lubuk kekosongan jiwa
Wahai,kakanda sosok yang belum adinda ketahui faras dan tabiatmu
Datang,hampiri,dan peluklah adinda dengan seluruh cinta yang telah lama adinda tunggu
Sebelum kekosongan menutupi nafas dan jiwa yang tak pernah tahu mampu menahan sejauh mana gejolak kebekuan hati
Kakanda,khitbahlah adinda dengan kesucian yang diberikan Sang Pencipta
Sudah lama adinda menanti kakanda dan menjaga segala kekotoran fikiran
Inilah adinda sudah berada di titik akhir pencarian kebahagiaan
Datanglah kakanda sebelum waktu lebih cepat menghampiri untuk merenggut raga adinda
Di dalam sudut kebekuan dan kekosongan yang dalam adinda menunggumu dimana pun kakanda berada”

Beruntai-untai sajak kepedihan dan memilukan kembali mengisi baris-baris dikertas yang selalu menemani hari-hari yang terasa lambat yang dia rasakan karena dia tak pernah merasakan kebahagiaan yang sejati dihidupnya melainkan hanya hal-hal yang bersifat menyakiti bisa saja menghampiri tanpa dia sadari karena jiwanya yang telah buta dan akan dia nikmati sebagai sebuah ketulusan.
Dan hari yang merona untuk mengantarkan kebahagiaan telah dia tutup dengan terbujur kaku dengan rona cantik diwajahnya berhiaskan kepedihan dan kebekuan yang dialaminya di ruangan yang menjadi saksi hidup atas waktu yang dihabiskan untuk menikmati kekosongan jiwanya.Sekarang ruangan sederhana  itu menjadi pengantar dan saksi yang terakhir kalinya saat dia menutup mata selama-lamanya pergi bersama berjuta kerinduan akan sosok yang selama ini ditunggunya untuk menebus semua kepahitan yang telah dialaminya.Angin menyibakkan rambut dan terlihat kecantikan rupanya saat dia tertidur untuk selamanya dan melepaskan karya terakhir yang berada dipelukkannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar