BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 ANALISIS
WACANA
Istilah wacana secara kasar, dapat
diartikan sebagai bahasa yang lebih luas dari kalimat atau klausa atau dapat
juga diartikan sebagai satuan linguistik yang lebih besar dari kalimat,
misalnya percakapan lisan atau naskah tertulis.Analisis wacana sebenarnya,
analisis bahasa dalam penggunaannya, seperti yang dikatakan oleh Brown
dan Yule (1984) dalam bukunya Discourse Analysis "The
analysis of discourse is necessarily the analysis of language in use".Karena
itu analisis wacana itu tidak mungkin dibatasi hanya pada deskripsi bentuk
linguistik yang terpisah dari hubungan antar manusia.
Selanjutnya Butler (1985) menambahkan
bahwa studi mempelajari pola bahasa yang lebih luas dari kalimat ("the
suprasetential patterning of language"). Ini bersamaan timbulnya dengan
minat mempelajari bahasa, dengan keinginan untuk mempelajari apa sebenarnya
yang bisa kita kerjakan dengan bahasa: bagaimana kita menggunakannya, tidak
hanya untuk saling bertukar informasi, tetapi untuk menyelesaikan
masalah-masalah ("getting things done") dan untuk menciptakan dan
memelihara hubungan sosial dan lain-lainnya.
Pada dasarnya, analisis merupakan upaya yang dilakukan untuk
menguak identitas objek analisis.Karena obek analisis wacana tidak pernah hadir
sendirian, selalu disertai konteks, maka konteks merupakan penentu identitas
objek analisis. Dalam hal ini kita memfokuskan objek kita pada salah satu media
massa yang ada, yaitu Koran. Dalam pemberitaan koran, tak jarang kita menemukan
adanya ketimpangan-ketimpangan yang terjadi. Kadang diantara dua Koran, satu
berita yang sama akan berbeda kesan yang kita dapatkan jika kita
membandingkannya. Tentu hal ini bisa membuat kita bingung dan bertanya-tanya,
informasi manakah yang benar-benar akurat. Tetapi dengan mencoba menganalisis
wacana tersebut, kita akan mengetahui motif/ideology yang tersembunyi di balik
teks berita tersebut secara sederhana, cara membaca yang lebih mendalam dan
jauh ini disebut sebagai analisis wacana.
1.2 ANALISIS
WACANA KRITIS
Analisis wacana muncul sebagai suatu reaksi terhadap
linguistik murni yang tidak bisa mengungkap hakikat bahasa secara
sempurna.Dalam hal ini para pakar analisis wacana mencoba untuk memberikan
alternative dalam memahami hakikat bahasa tersebut.Analisis wacana mengkaji
bahasa secara terpadu, dalam arti tidak terpisah-pisah seperti dalam
linguistik, semua unsur bahasa terikat pada konteks pemakaian.Oleh karena itu,
analisis wacana sangat penting untuk memahami hakikat bahasa dan perilaku
berbahasa termasuk belajar bahasa.Analisis wacana kritis model van Dijk
bukan hanya semata-mata mengalisis teks, tapi juga melihat bagaimana struktur
sosial, dominasi dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat, serta
bagaimana kognisi atau pikiran dan kesadaran yang membentuk dan berpengaruh
terhadap teks yang dianalisis. Van Dijk menggambarkan wacana dalam tiga dimensi
atau bangunan yaitu : teks, kognisi sosial dan konteks sosial.Inti analisisnya
adalah menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut ke dalam satu kesatuan
analisis. Pada dimensi teks yang diteliti bagaimana struktur teks
dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada
level kognisi sosial dipelajari proses produksi teks berita, yang melibatkan
kognisi individu dari wartawan atau redaktur. Sedangkan aspek ketiga
mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan
suatu masalah yang mempengaruhi kognisi wartawan atau redaktur. Namun, dalam
analisis ini penulis tidak membahas ketiga dimensi tersebut. Penulis hanya fokus
pada analisis teks saja.
Analisis
teks terdiri atas beberapa struktur/ tingkatan yang masing-masing bagian saling
mendukung. Ada tiga tingkatan dalam analisis teks: struktur makro,
superstruktur dan struktur mikro.
|
Struktur Makro
Makna global
dari suatu teks yang dapat diamati
Dari
topic/tema yang diangkat oleh suatu teks
|
|
Superstruktur
Kerangka
suatu teks, seperti bagian pendahuluan,
Isi,
penutup, dan kesimpulan
|
|
Struktur Mikro
Makna
lokal dari suatu teks yang dapat diamati
Dari
pilihan kata, kalimat dan gaya
yang
dipakai oleh suatu teks
|
Penjelasan
:
1. Struktur Makro (Tematik). Elemen
tematik merupakan makna global (global meaning) dari satu
wacana. Tema merupakan gambaran umum mengenai pendapat atau gagasan yang
disampaikan seseorang atau wartawan. Tema menunjukkan konsep dominan, sentral,
dan paling penting dari isi suatu berita.
2. Superstruktur (Skematik/ Alur) : Teks
atau wacana umumnya mempunyai skema atau alur dari pendahuluan sampai akhir.
Alur tersebut menunjukkan bagaimana bagian-bagian dalam teks disusun dan
diurutkan sehingga membentuk satu kesatuan arti. Sebuah berita terdiri dari dua
skema besar. Pertama summary yang ditandai dengan judul
dan lead. Kemudian kedua adalah story yakni isi
berita secara keseluruhan.
3. Struktur Mikro. Struktur ini
terdiri atas :
a) Analisis Semantik
Tinjauan semantik suatu berita atau
laporan akan meliputi latar, detail, ilustrasi, maksud dan pengandaian yang ada
dalam wacana itu.
a.1) Latar :
Latar merupakan elemen wacana yang dapat mempengaruhi (arti kata)
yang ingin disampaikan. Seorang wartawan ketika menyampaikan pendapat biasanya
mengemukakan latar belakang atas pendapatnya. Latar yang dipilih menentukan ke
arah mana khalayak hendak dibawa.
a.2) Detail : Elemen
ini berhubungan dengan kontrol informasi yang ditampilkan oleh seorang
wartawan. Komunikator akan menampilkan secara berlebihan informasi yang
menguntungkan dirinya atau citra yang baik. Sebaliknya akan membuang atau
menampilkan dengan jumlah sedikit infomasi yang dapat merugikan citra
dan kedudukannya.
a.3) Maksud : elemen
ini melihat apakah teks itu disampaikan secara eksplisit atau tidak. Apakah
fakta disajikan secara telanjang, gamblang atau tidak. Itulah masuk karegori
elemen maksud dalam wacana.
a.4) Praanggapan : strategi
lain yang dapat memberi citra tertentu ketika diterima khalayak. Elemen ini
pada dasarnya digunakan untuk memberi basis rasioal, sehingga teks yang
disajikan komunikator tampak benar dan meyakinkan. Praanggapan hadir untuk
memberi pernyataan yang dipandang terpecaya dan tidak perlu lagi dipertanyakan
kebenarnnya karena hadirnya pernyatan tersebut.
b) Analisis Kalimat (Sintaksis)
Strategi wacana dalam level sintaksis
adalah sebagai berikut :
a. Koherensi : adalah jalinan atau pertalian
antar kata, proposisi atau kalimat. Dua buah kalimat atau proposisi yang
mengambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan dengan memakai koherensi.
Sehingga dua fakta tersebut dapat menjadi berhubungan.
§ 1) Koherensi sebab akibat. Koherensi
sebab akibat dengan mudah dapat kita lihat dari pemakaian kata
penghubung yang dipakai untuk menggambarkan dan menjelaskan hubungan, atau
memisahkan suatu proposisi dihubungkan dengan bagaimana seeorang memaknai
sesuatu yang ingin ditampilkan pada khalayak pembaca.
§ 2) Koherensi Penjelas. Koherensi
penjelas ditandai dengan pemakaian anak kalimat sebagai penjelas. Bila ada
dua proposisi, proposisi kedua adalah penjelas atau keterangan dari proposisi
pertama.
§ 3) Koherensi pembeda. ini berhubungan
dengan pertanyaan bagaimana dua peristiwa
atau fakta itu hendak dibedakan. Dua peristiwa dapat dibuat seolah-olah
saling bertentangan dan berseberangan (contrast). Kata sambung
yang biasa dipakai untuk membedakan dua proposisi ini adalah ”dibandingkan’,
dibanding, ketimbang.
b. Pengingkaran : bentuk
praktik wacana yang menggambarkan bagaimana wartawan menyembunyikan apa yang
ingin diekspresikan secara implisit. Pengingkaran menunjukkan seolah-olah
wartawan menyetujui sesuatu tapi hakikatnya tidak menyetujuinya.
c. Bentuk kalimat : berhubungan
dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas. Logika kausalitas ini
kalau diterjemahkan ke dalam bahasa menjadi susunan subjek (yang
menerangkan) dan predikat (yang diterangkan). Dalam kalimat yang berstruktur
aktif seseorang menjadi subjek dari pernyataannya, sedangkan dalam kalimat
pasif seseorang menjadi objek dari pernyataannya.
d. Kata ganti : alat
untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan komunitas imajinatif. Kata ganti
merupakan elemen yang dipakai oleh komunikator untuk menunjukkan di mana posisi
seseorang dalam wacana.
c) Analisis Leksikon (Makna Kata)
Dimensi
leksikon melihat makna dari kata. Unit pengamatan dari leksikon
adalah kata-kata yang dipakai oleh wartawan dalam merangkai berita atau laporan
kepada khalayak. Kata-kata yang dipilih merupakan sikap pada ideologi dan sikap
tertentu. Peristiwa dimaknai dan dilabeli dengan kata-kata tertentu sesuai
dengan kepentingannya.
d) Stailistik (Retoris).
1) Gaya Penulisan: deskripsi, eksposisi,
argumentasi, persuasi dan narasi.
2) Grafis: pemakaian huruf tebal, huruf
miring, pemakaian garis bawah, huruf yang dibuat ukuran lebih besar,
termasuk pula, caption, raster, grafik, gambar atau tabel
untuk mendukung arti penting suatu pesan.
BAB
II
ANALISIS
DAN PEMBAHASAN
2.1
ARTIKEL ANALISIS
Analisis ini meliputi artikel mengenai “Melibatkan Perempuan Capai
Swasembada Cabai” yang diambil dari situs penyedia artikel online http://www.antaranews.com/berita/608163/melibatkan-perempuan-capai-swasembada-cabai.
2.2
PEMBAHASAN
1. Struktur
Makro (Tematik)
Melibatkan Perempuan dalam Kegiatan Kawasan Rumah Pangan
Lestari (KRPL) untuk swasembada cabai yang saat ini harganya naik.
2. Superstruktur (Skematik /Alur)
- Harga cabai yang sempat tak terkendali hingga
mencapai Rp150.000 per kilogram di sejumlah daerah menyebabkan masyarakat harus
merogoh kantong lebih dalam, mengingat komoditas tersebut sangat dibutuhkan
untuk bumbu masakan khas Indonesia.
- Faktor cuaca yang tak mendukung seperti curah hujan
yang berkepanjangan dituding menjadi penyebab salah satu faktor harga cabai
melonjak, di samping distribusi yang tak lancar dari sentra produksi ke
sejumlah pasar.
- Perempuan bisa dilibatkan untuk mencapai
swasembada cabai salah satu contoh kecilnya untuk kebutuhan dapur secara
pribadi dan efektif untuk berhemat bisa melalui pembuatan rumah pangan lestari
disekitar pekarangan rumah.
3. Struktur Mikro :
a) Analisis Semantik
§ Latar:
-
Tak
mau krisis cabai terus berlanjut sehingga menyebabkan masyarakat ikut susah,
Kementerian Pertanian (Kementan) Andi Amran Sulaiman bersama Tim Penggerak
Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) menggelar rapat memantapkan kerja
sama memanfaatkan pekarangan dan Gerakan Tanam Cabai (Gertam Cabai) di Kantor
Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, Jakarta, Rabu (18/1/2017).
§ Detail:
-
"Tadi kami rapat bersama Ketua
PKK, kami akan menggencarkan program pemanfaatan pekarangan secara masif
seperti beras dan jagung. Kami akan memanfaatkan seluruh BPTP melakukan
pembibitan seperti cabai, sayur, dan buah-buahan tertentu yang diperuntukkan
perkarangan rumah tangga yang memungkinkan untuk ditanami," kata Amran.
-
Bibit-bibit tersebut akan diberikan
gratis untuk ditanam di pekarangan rumah anggota PKK di seluruh Indonesia dan
akan diberikan pendampingan dari penyuluh yang ada di desa dan kabupaten.
-
Bibit yang dihasilkan BPTP nanti akan
diberikan gratis. Dan mereka akan diberikan pendampingan juga, ada 1000 pendamping.
Mereka akan membantu seperti misalnya ada masalah penyakit di tanamannya dan
sebagainya.
§ Maksud:
-
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran
Sulaiman mengatakan, potensi lahan pekarangan yang ada di Indonesia mencapai
10,3 juta hektar. Bila lahan tersebut bisa dimanfaatkan secara maksimal,
dirinya optimistis dapat menyelesaikan permasalahan kenaikan harga beberapa
komoditas.
-
Penulis menilai Media tanaman cabai ini
tidak terlalu sulit, cabai dapat ditanam dan dikembangkan meski hanya di areal pekarangan
rumah. Terpenting hanya kemauan dari ibu-ibu untuk menjaga dan merawat cabai,
jangan setelah siap ditanam dibiarkan begitu saja tanpa disiram apalagi
diberikan pupuk.
b) Analisis Kalimat (Sintaksis)
§ Koherensi sebab Akibat:
-
Dilaksanakannya
Kawasan Rumah Pangan Lestari dikarenakan harga cabai yang melambung naik akibat
dari curah hujan yang tidak merata,dan distribusi dari sentra produksi ke
pasar.
Tak mau krisis cabai terus berlanjut
sehingga menyebabkan masyarakat ikut susah, Kementerian Pertanian (Kementan)
bersama Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) menggelar rapat
memantapkan kerja sama memanfaatkan pekarangan dan Gerakan Tanam Cabai (Gertam
Cabai) di Kantor Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, Jakarta, Rabu (18/1/2017)”
-
Menteri
Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, “potensi lahan pekarangan
yang ada di Indonesia mencapai 10,3 juta hektar. Bila lahan tersebut bisa
dimanfaatkan secara maksimal, dirinya optimistis dapat menyelesaikan
permasalahan kenaikan harga beberapa komoditas”
-
Untuk
menyukseskan program ini, Mentan Amran mengaku akan mengupayakan anggaran
hingga Rp 100 miliar. Bantuan akan diberikan kepada kelompok wanita/dasawisma
yang beranggotakan minimal 15 rumah tangga yang berdekatan dalam satu kawasan.
Kajian: dalam kalimat diatas
dipaparkan adanya “koherensi sebab akibat” yang terpapar dengan jelas dalam
penjelasan Menteri Pertanian sebagai mengurangi beban masyarakat atas
membumbung tingginya harga cabai dan beberapa komoditas maka dibentuklah program
Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang melibatkan ibu-ibu rumah tangga.
c) Analisis Leksikon (Makna Kata)
§ Harga cabai
yang sempat tak terkendali hingga mencapai Rp150.000 per kilogram di sejumlah
daerah menyebabkan masyarakat harus merogoh
kantong lebih dalam, mengingat komoditas tersebut sangat dibutuhkan untuk
bumbu masakan khas Indonesia.
Ungkapan merogoh kantong lebih dalam tersebut
menunjukkan bahwa harga cabai yang naik dan tak terkendali membuat masyarakat
mengeluarkan uang lebih banyak.
§ Faktor cuaca yang tak mendukung seperti curah hujan yang
berkepanjangan dituding menjadi penyebab salah satu faktor harga cabai melonjak, di samping distribusi yang tak lancar dari
sentra produksi ke sejumlah pasar.
Melonjak disini memiliki artian bahwa harga
cabai sekarang ini sedang mahal.
§ "Tadi kami rapat bersama Ketua PKK, kami akan
menggencarkan program pemanfaatan pekarangan secara masif seperti beras dan jagung. Kami akan memanfaatkan
seluruh BPTP melakukan pembibitan seperti cabai, sayur, dan buah-buahan
tertentu yang diperuntukkan perkarangan rumah tangga yang memungkinkan untuk
ditanami," kata Amran.
Kata massif
mengandung pemanfaatan pekarangan akan dilakukan secara besar-besaran.
1) Gaya Penulisan : Deskripsi/Argumentasi
2) Grafis : Artikel mengenai upaya yang dilakukan Menteri Pertanian untuk
menanggulangi hargai cabai dan komoditas lain yang merogoh kantong masyarakat
dianggap artikel penting oleh penulis ditandai dengan hampir seluruh media
massa baik cetak atau elektronik memuat berita naiknya harga cabai diterbitkan
hampir setiap hari selama bulan Desember 2016 hingga Januari 2017 .
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Kita akan mendapatkan kemudahan
dalam menganalis suatu berita dengan menggunakan model Van Dijk karena
dilakukan dengan sistematis.
2. Dari analisis tersebut dapat
disimpulkan bahwa penulis ingin menciptakan pemikiran-pemikiran inovatif
masyarakat terutama perempuan bisa dilibatkan untuk program kawasan rumah pangan
lestari (KRPL) oleh Menteri Pertanian.
B. SARAN
Masyarakat
setelah mengakses artikel ini bisa menerapkan rumah pangan lestari disekitar
pekarangan rumah masing-masing misalnya menanam cabai yang saat ini harganya
sedang melonjak atau komoditi lain yang
bisa memberi manfaat pekarangan menjadi indah dan efektif lebih mengurangi
pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar