Riak gelombang Sungai Mahakam disisa sore yang
mendung masih segar menampakkan pilu bentangan Jembatan Mahakam yang telah
runtuh.seperti biasa gadis berambut lurus keturunan Kerajaan Kutai bernama Aji
Putri duduk di turap yang menjadi tempat kesukaannya untuk menumpahkan setiap
perasaan dan keluh kesahnya lewat goresan pulpen dibuku kuning kecil
ditangannya.Disaat bersamaan datanglah seorang gadis sebaya dengannya tampak
berbicara padanya.
“Putri,mpai awak kusut kah?”Tanya gadis itu
seraya duduk disamping Putri.
“Ndik,ada kerjaan kah ndak awak padahi ke
aku?”jawab Putri
“Hooh,mpai tu kan etam ada hajatan pore di
kedaton dengan museum jadi beundangan urang luar benua etam nie,nah awak bisa
ndik jadi guide merongahi tentang Kutai nie ke sida?”
“Adoh,tegak apa yoh aku nie banyak tugas kuliah
betompok tapi aku sempatkan jua hak untuk nulungi hajatan tu mpai yoh”jawab
Putri
“Nah,oke dah,mulang yok apa polah diturap hari
dah mendung tegak nie abah dengan mamak dah nunggui etam di kedaton”
“Iya hak dengsanak leh”jawab Putri sambil
berjalan bersama Gadis itu.
Keesokan harinya,suasana sangat terik di tanah
Kutai tapi tak mengurangi antusias ribuan orang di Museum untuk melihat
peninggalan Sejarah Kerajaan Kutai.Tampaklah Putri dengan baju warna kuning
keemasan berdiri sambil memperhatikan dimana orang luar daerah yang akan
bersamanya untuk berjalan-jalan sambil menceritakan tentang Tenggarong
khususnya.Tak berapa lama terlihatlah laki-laki berwajah melayu berjalan
mendekati Putri dan ingin menanyakan sesuatu.
“sorri,awak ni orang Kalimantan sini tak?”Tanya
laki-laki itu
“Maksud awak apa?”tanya Putri dengan nada
bingung
“Maksud saye kau penduduk di Kutai sini tak?”
“Iya benar,maaf tadi saya bingung dengan bahasa
anda.Anda dari daerah mana?”
“Saya dari Malaysia.apakah anda salah satu guide
yang disediakan untuk pendatang?”
“Iya,”jawab Putri singkat.
“Kebetulan sekali saya belum ada yang saya kenal
disini dan belum dapat guide.Dan bisakah kamu mengantarkan saya ke tempat makan
karena saya lapar sekali?”
“Ok,tentu saja mari ikut saya”
Mereka berjalan menuju keluar museum sambil
sekali-kali laki-laki itu menanyakan tentang Sejarah Kerajaan Kutai dan
peninggalan di Museum tersebut.Tidak lama mereka telah sampai di tempat makan
yang sederhana tapi terkenal dengan makanan khas Kutai yang sangat familiar
dengan penduduk Kutai sendiri.
“Mbok Nah,aq pesan nasi kuningnya dua yoh.ada
urang Malaysia dihigaku ni biarnya merasai nyamannya nasi kuning polahan
kita”ucap putri
“Iya leh,aku polahkan yang paling nyaman.gagah
jua kanak laki higa awak tu?”jawab Mbok Nah sambil tersenyum.
“Kamu juga bisa menggunakan Bahasa Melayu
seperti di Malaysia?”Tanya laki-laki itu.
“Tidak,tapi itu tadi Bahasa Kutai dan
memang memiliki kesamaan dengan Bahasa Melayu seperti kamu cakap tadi?”
“Bisa saja kau ni,oh ya nama kau siapa?aku
sampai lupa menanyakan nama kau?”
“Namaku Aji Putri,dan namamu siapa ?”jawab Putri
“Aji?kenapa namamu seperti laki-laki?dan namaku
adalah Ahmad Fahri.tapi kau cukup panggilku dengan sebutan Fahri”
“Tidak,Aji itu adalah gelar bagi yang masih
keturunan Silsilah Kerajaan Kutai seperti aku.”ucap Putri
“oh begitu ya,nama yang bagus.Dan apa nama
makanan ini?kenapa nasinya berwarna kuning?”Tanya Fahri kepada Mbok Nah.
“Oh,ni namanya nasi kuning,nyaman bujur rasanya
ni”jawab Mbok Nah
“Iya,saya sedikit paham maksudnya dan ini mirip
seperti nasi lemak seperti di Malaysia ya”jawab Fahri sambil sedikit tertawa.
“iya karena kita masih satu rum pun jadi ada
kesamaan dalam hal makanan,Mbok Nah ni mananya ngerti carangan Mbok Nah
tu.Bujur-bujurnya Mbok ni”
“Dah tu makan aja nasi kuning tu,sihan kawan
awak dah kelaparan tu”
“Iya leh mbok”ucap Putri singkat.
Karena cuaca begitu menyengat di Kutai
Kartanegara diputuskan untuk semua wisatawan dan panitia untuk beristirahat
ditempat yang telah disediakan.Tapi,Putri dan Fahri tidak pergi ketempat yang
telah ditentukan.Fahri duduk di anak tangga di dalam museum begitu juga Putri
disampingnya yang menceritakan tentang banyak hal sambil menuliskan goresan
teks dibuku kuning kesayangannya.
“Putri,apa yang kau tulis dibuku itu?”Tanya Fahri
seraya memperhatikan Putri.
“Bukan apa-apa hanya coretan kecil.oh ya,apakah
kamu capek?”
“Iya,sedikit lelah.emangnya kenapa Putri?”jawab Fahri
“Oh tidak apa-apa aku sarankan kita sebaiknya
pulang karena kulihat kau lelah sekali.bagaimana?”Tanya Putri
Diiringi anggukan tanda setuju dari Fahri mereka berjalan keluar museum dengan
menggunakan skuter matik milik Putri menuju kerumah Putri,Fahri tak
henti-hentinya memperhatikan dan mengungkapkan kekagumannya pada apa saja yang
dilihatnya sepanjang jalan menuju rumah Putri.Motorpun berhenti dirumah bercat
kuning berhiaskan motif ukiran Kutai dan kental dengan lambang yang identik
dengan Kerajaan Kutai.
“Silahkan masuk”ucap Putri sambil membuka pintu.
“Terima kasih,rumah yang bearsitektur seperti
kerajaan”ucap Fahri sambil tersenyum kearah Putri
“Silahkan duduk ya,kau mau minum apa?oh
ya,kamarmu ada dilantai 2 sebelah kiri dan disebelah kamarmu adalah kamar
mandi”
“Tidak usah repot-repot Putri,aku sudah
berterima kasih telah disediakan tempat menginap disini.oh ya apa tidak ada
keluargamu yang lain tinggal disini?”Tanya Fahri
“Ada,tapi mereka sedang keluar kota dan ada yang
masih kuliah jadi tidak ada dirumah”jawab Putri .
“Bisakah kau mengajakku jalan-jalan besok?”Tanya
Fahri
“Tentu saja.aku ke kamarku dulu ya kalau ada
perlu panggil saja aku.Bye”
Tanpa Putri sadari Fahri tetap memperhatikannya
walau ia telah berlalu jauh dihadapannya.Tiba-Tiba Fahri dikejutkan dengan
kedatangan Isna dan Otoh yang baru pulang kuliah.Percakapan dengan sepupu Putri
ini mengalihkan sejenak perhatian Fahri terhadap Putri.
“awak pasti wisatawan yang ke Tenggarong ni
kan?”Tanya Isna dengan penasaran
“Apa yang kau cakap?”Tanya Fahri
“Aduh,Isna nya nie urang Malaysia
tegaknya.bahasa etam dengannya hampir sama tapi ada sedikit maha kata-kata yang
beda makanya ndik nyambong”jawab Otoh.
“Oh,begitu ya.kalau begitu namaku Isna dan ini
Otoh.Siapa yang membawamu kesini?”Tanya Isna
“Aku Fahri.Putri yang membawa saya kesini dan
dia sekarang dikamarnya.”jawab Fahri
“Putri itu memangnya ada tamu dibiarkan disini
sorangan.Antarkan Fahri ke kamarnya dulu Isna”perintah Otoh.
“Iya leh,lalu aku disuruhnya tapi ndik nolak jua
aku ngantarkan cowok gagah”jawab Isna sambil berlalu melewati Otoh yang
menggeleng-gelengkan kepala atas ulah Isna.
Malam menghampiri dan bersiap melelapkan semua
orang yang telah lelah dengan kesibukan.Sedikit rintik hujan semakin mendukung
suasana.Hanya sepi kelabu menyergap dirumah Putri yang indah.Terlihat Putri
duduk di balkon rumahnya dan dari kejauhan ada sosok yang memperhatikannya
tanpa bergeming sedikitpun dan menghampirinya.
“apa yang kau lakukan disini?apa kau tidak kedinginan?”Tanya
Fahri penasaran
“Kau mengagetkanku.Justru disaat seperti ini aku
suka duduk disini dan tidak kedinginan”jawab Putri
“Oh,kenapa kau berbeda dari pertama aku
mengenalmu kemarin?sekarang kau terlihat dingin,tegas,seperti……..”Fahri pun
terdiam.
“Seperti apa maksudmu?aku memang seperti ini
orangnya,Kau kenapa belum tidur padahal besok kau mau jalan-jalan?”Tanya Putri
“Tidak apa-apa, hanya seperti legenda seorang
putri dari tanah Kutai yang sempat aku browsing tadi”
“Berarti kau sudah sedikit mengenali ya tentang
Kutai.Ya,aku harap kamu tidak mengantuk saat kita jalan besok”Ucap Putri sambil
tersenyum.
Mereka pun terdiam sejenak tidak tahu untuk membahas apapun seiring hujan yang semakin lebat membasahi ditempat mereka berbincang dan mereka dikejutkan petir yang menggelegar tiba-tiba.Tanpa disadari Putri berdiri dan memegang erat tangan Fahri dan berlindung dibelakang Fahri karena ketakutan mendengar suara petir tadi.
Mereka pun terdiam sejenak tidak tahu untuk membahas apapun seiring hujan yang semakin lebat membasahi ditempat mereka berbincang dan mereka dikejutkan petir yang menggelegar tiba-tiba.Tanpa disadari Putri berdiri dan memegang erat tangan Fahri dan berlindung dibelakang Fahri karena ketakutan mendengar suara petir tadi.
“Hey Putri,apa kau ketakutan?”Tanya Fahri.
“Aku sangat takut pada petir”jawab Putri dengan
suara ketakutan dan hampir menangis.
“Tenanglah,lebih baik aku antar kau ke
kamarmu”diiringi Putri yang memegang tangan Fahri “Sekarang kita sudah sampai
di depan pintu kamar kau masuklah kedalam”Fahri memperhatikan Putri yang tak
bergerak dan masih menggenggam tangannya.
“Oh,maafkan aku,iya aku akan masuk
kedalam.terima kasih Fahri”ucap Putri dengan malu saat menyadari tangannya
menggenggam tangan Fahri dan segera melepasnya.
Fahri hanya melemparkan senyum sambil
memperhatikan Putri yang masuk ke kamar dan menutup pintunya dengan
mengantarkan pandangan tulus sebelum menutup pertemuan mereka malam ini.Tanpa
sepasang insan itu sadari bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan apa yag
terjadi antara mereka dan tersenyum dari kejauhan sosok itu adalah Isna yang
ingin menutup jendela yang terbuka karena kencangnya angin akibat hujan malam
ini.Dari belakang Otoh terheran mengapa Isna tersenyum sendiri pada malam itu
dan menanyakannya pada Isna.
“Isna,kenapa awak senyum sorangan?”Ucap Otoh
sambil menepuk bahu Isna dan membuat Isna terkejut.
“Astaga,nakuti awak ni ku kira hantu maha,tadi
aku melihat Putri dengan cowok Malaysia tu jawatan tangan”jawab Isna sambil
menghadap kearah Otoh.
“awak ni ndik kawa ngintipi urang lech dah tama
kamar situ tidur”ucap Otoh menarik lengan Isna.
“Aku tu ndik ngintip tapi ndik sengaja melihat
sida tu tadi lech pas aku dengar bunyi jendela depan nie tadi tebuka”jawab Isna
menyakinkan Otoh.
“masa lech?iya kah?apa sida polah malam-malam
tegak ni behodengan kah sida?”Tanya Otoh.
“Kepo awak nie lech”ucap Isna sambil berlari
menuju kamarnya bersamaan dengan Otoh yang mengejarnya “Isna,padahi hak aku
lech”.
Seusai mengantarkan Putri ke kamarnya dan
keributan Isna dan Otoh tadi yang tak Fahri dengar,Fahri merebahkan dirinya
diranjang.Fahri merasakan getaran dari hati yang tak mudah untuk dikendalikan
ketika merasakan genggaman tangan Putri dan ukiran senyuman dari wajah
manis dara Kutai terbawa hingga ia memejamkan mata untuk menuju ke dunia mimpi
yang telah datang karena malam yang telah larut.
Esok hari pun datang menghampiri dan
menggantikan tugas malam yang telah berlalu.Angin semilir melambaikan dedaunan
dan bunga tampaklah matahari masih malu-malu untuk menebarkan cahayanya.Fahri
sudah berdiri di halaman rumah Putri menikmati pagi yang berbeda ditanah
Kalimantan dan Putri pun menghampiri Fahri.
“kenapa mukamu menekuk seperti itu?”Tanya Fahri
kepada Putri.
“tidak,apa-apa hanya kurang tidur.kamu mau jalan
kemana hari ini?”Tanya Putri.
“jelek kali lah kau mukamu seperti itu,hilanglah
pesona Putri yang aku lihat selama ni”gurau Fahri.
“Ah,bisa saja lah kau ni,namaku saja yang Putri
tapi bukan Putri sungguhan jauh sekali lah”jawab Putri.
“Lucu kudengar kau cakap Bahasa seperti aku
tadi”jawab Fahri sambil mengejek.
“Iyalah,ayo kita sarapan sebelum aku berubah
niatlah untuk mengajakmu sarapan”ucap Putri
“ok…ok Putri”jawab Fahri sambil tersenyum
“Ciiiieeeee,Putri tadi malam”saat melihat Putri
dan Fahri datang bersamaan ke meja makan.
“Sepertinya ada yang pacaran ni”sambung Otoh
sambil mengambil roti dipiringnya.
“Maksudnya?”Tanya Fahri yang mulai bingung
dengan perkataan mereka.
“Tadi malam aku lihat loh ada yang bergandengan
tangan”jawab Isna tertawa menatap Putri yang tiba-tiba terbatuk saat menelan
rotinya dan dengan segera Fahri menyodorkan gelas minuman padanya “Terima
kasih”Ucap Putri pada Fahri sebelum minum air dari gelas itu.
“Ciiieeee,so sweet sekali kalian pacaran
ya?”Tanya Isna penasaran.
“Isna,jangan bekesah nyebut kami behodengan
pakai bahasa kutai aja gin biar Fahri tu ndik ngerti ndik nyaman lech mun Fahri
tau arti carangan kita bedua tadi”jawab Putri.
“Fahri,apa kau suka dengan Putri”Tanya Otoh
tiba-tiba pada Fahri dan belum sempat Fahri menjawab Putri segera mengejar
mereka yang sudah berlari jauh menuju kendaraan mereka untuk pergi kuliah.
“Kau hanya akan lelah mengejar mereka
berdua”ucap Fahri saat melihat Putri kembali ke meja makan “By the way,pacaran
dan behodengan itu apa maksudnya?” Tanya Fahri.
‘Maafkan perkataan mereka tadi ya”ucap Putri
sambil salah tingkah.
“Iya,tidak apa-apalah itu saya paham,tapi kenapa
kau tak jawab pertanyaan saya?”
“Nanti kau akan tau sendiri jawabannya”ucap Putri sambil mengunyah rotinya.
“Nanti kau akan tau sendiri jawabannya”ucap Putri sambil mengunyah rotinya.
Fahri hanya tersenyum mendengar jawaban Putri
dan percakapan mereka pun berlanjut tentang banyak hal dan tidak mereka sadari
waktu terus berurai sampai mengantarkan pada sore hari yang sejuk.Putri
memberhentikan kendaraan dipinggir trotoar.Mereka menepi untuk melepaskan
kepenatan diturap dengan melihat kapal besar membawa batubara melewati Sungai
Mahakam dan bentangan Jembatan Mahakam yang memilukan.Sekali-kali juga
terlihat muda mudi berjalan sepanjang turap menebarkan romantika mereka.
“Sungguh sore yang indah,apa nama tempat ni
Putri?”Tanya Fahri
“Namanya turap,apa kau tak pernah menemui turap
di Malaysia?”
“Tidak pernahlah aku melihat tempat duduk
sepanjang ini dipinggir Sungai”ucap Fahri kagum.
“Putri,kenapa banyak anak muda berpasangan
disini?”Tanya Fahri.
“Oh ya,aku lupa hari ini hari sabtu dan malam
minggu akan tiba jadi inilah tempat anak muda Kutai untuk behodengan”jawab
Putri
“Be…hodengan?sudah dua kali aku mendengar
kalimat itu apa itu maksudnya Putri”Tanya Fahri sambil terbata-bata.
“Ups,maaf aku akan memberitahumu sekarang,itu adalah
bahasa Kutai istilah untuk muda mudi itu tadi.Lucu juga mendengarmu bicara
Bahasa Kutai”ucap Putri hampir tertawa.
“Berarti kita juga behodengan kalo macem
tu?”Tanya Fahri sambil tersenyum.
Belum sempat Putri menjawabnya,Datang beberapa
orang seumuran Putri berjalan kearah mereka dan seperti terlihat bertanya-tanya
siapa yang disamping Putri karena selama ini Putri diturap hanya ditemani buku
dan pulpen.Mereka langsung duduk disamping Putri dan menanyakan sesuatu.
“Putri,siapa dihiga awak tu?hodengan awak
kah?ada kemajuan hak kawanku sorang ni dah bawa hodengannya?”Tanya Nisa yang
baru saja duduk diturap.
“Iya,saya hodengan Putri”jawab Fahri tanpa
diduga.
“Eh,lain-lain,kanak ni dari Malaysia jadi aku
guidenya kanak ni”jawab Putri dengan terkejut
“Mana ada dah tu,iya guide tapi guide hati kanak
ni kan?”sahut Awan dengan tertawa.
“Nyela pulang awak ni begombalan Wan,dah ku
padahi Fahri lain hodenganku,asal sebut maha Fahri tadi”Jawab Putri kesal.
“Ya dah hak tu leh,aku dengan bubuhannya ndak
jalan dulu takut ganggu urang behodengan.Dahhhhh Putri”ucap Nisa.
Nisa melewati Putri dengan senyuman ditahan
disertai teman-teman Putri yang lain menuju turap yang mendekati Jembatan
Mahakam untuk bercerita disana tentang apa yang mereka lihat sore ini.Putri
menatap Fahri dengan wajah kesal sementara Fahri hanya tersenyum-senyum melihat
Putri.
“Kenapa kau melihatku macam itu?Jelek kali muka kau
My Princess”Tanya Fahri.
“Kau kira Syahrini pake kata Princess
segala,kenapa kau bilang kalu kau tadi hodenganku?”
“Emang artinya apa?kan kau tadi bilang artinya
adalah muda mudi yang disini kan?”Jawab Fahri
“Hhmmmmm,iya salahku juga tak memberitahu
artinya kalau hodengan itu orang berpacaran bukan sekedar muda mudi yang duduk
disini”jawab Purtri.
“Oh begitu rupanya,tapi kau senangkan karena
pipimu terlihat merah”Gurau Fahri.
“Sudahlah kau ni,macam-macam saja,ayo kita
jalan”jawab Putri
Tanpa Putri sadari buku kecil kuningnya
tertinggal di turap dan Fahri pun mengambilnya dan memanggil manggil
Putri.Namun,Putri tidak mendengar panggilan Fahri karena berjalan begitu cepat
melewati teman-temannya yang dari tadi terus memperhatikan Putri dan Fahri. Fahri
pun memasukkan buku Putri kedalam tas miliknya dan berlari secepat mungkin
karena tidak mau Putri tinggal.Senja telah meraih malam untuk datang disaat
Putri dan Fahri memasuki rumah Putri.Mereka pun memasuki kamar
masing-masing.Selesai mandi, Fahri meraih tasnya dan mengambil buku Putri tadi
dan membukanya.
“Apa ini tulisan yang yang berkaitan tentang
kuliah dan coretan-coretan tidak jelas isinya?”gumam Fahri sendirian.
Tapi dipertengahan isi buku, Fahri melihat
tulisan yang berbeda dari apa yang dibacanya diawal tadi. Fahri mulai
membacanya dengan seksama karena seperti sebuah cerita yang Putri tulis sendiri
dan terdapat Puisi yang menghiasi cerita itu.
“Ketika cinta antara Pangeran dan Ratu Aji
Bidara Putih terbentur
Oleh perbedaan yang berhiasan dua budaya yang
berbeda
…………………………………………………….
Fahri berhenti membaca sejenak karena mendengar
ada yang berjalan dibelakang sofa menuju kearahnya.Dan tanpa buang waktu Putri
langsung mengambil buku miliknya yang sedang dibaca Fahri karena khawatir Fahri
akan membaca isi buku itu.
“rupanya di kau buku yang aku cari dari
kemarin?”ucap Putri.
“Apa?apa yang kau katakan tadi?”jawab Fahri
terkejut.
“Tidak,apa-apa.aku hanya mau mengambil buku
ini?”ucap Putri
“kenapa kau mengambilnya?aku baru melihat
sedikit puisi itu?”Tanya Fahri.
“Tidak boleh,ini rahasia nanti juga kau akan
membacanya”ucap Putri
“Ayolah,aku masih penasaran.Kalau kau tidak mau
antarkan aku ke tempat legenda Ratu Aji Bidara Putih”pinta Fahri
“tidak.Ok,kita akan kesana besok dan aku harus
kuliah sekarang.kalau ada perlu hubungi aku atau minta tolong ke Isna atau
Otoh,Ok?”ucap Putri sambil berjalan kearah Pintu.
“Ok,hati-hati Sang Putri”ucap Fahri sambil
diiringi senyum bertanya-tanya Putri.
Subuh menjelang dan adzan mulai bergema
memperingatkan penduduk dunia untuk menjalankan perintahnya. Fahri berjalan
keluar rumah untuk menunggu Putri karena sesuai rencana mereka akan berjalan
ketanah tempat legenda sang Putri,yaitu Ratu Aji Bidara Putih.
Disela embun pagi yang masih tebal tampaklah
Putri berjalan keluar rumah mendekati Fahri yang berdiri menikmati pagi.
“Sudah lamakah kau disini?”Tanya Putri
“tidak lah,saya baru saja keluar dari sini.ayo
kita berangkat”ajak Fahri.
“sebentar lah,kita menunggu Isna dan Otoh
juga”jawab Putri
“astaga,so dimana mereka?”Tanya Fahri
“itu mereka sudah datang”sambil melihat kearah
pintu.
“Aduh,maaf kami telat ya kalian pasti dah lama
nunggu kami”ucap Isna tergesa-gesa.
“kalian kemana sich bedua?bisa telat kita begini
caranya!”jawab Putri
“Sudahlah,jangan bekelahi.lebih baik kita segera
berangkat.aku keluarkan mobil dari garasi sekarang”jawab Otoh.
Alunan musik tak henti-hentinya berdenting di
mobil yang mereka gunakan untuk ke Danau Lipan.Akhirnya mereka sampai juga di
tempat yang sangat ingin Fahri datangi.Mereka pun keluar dari mobil dan menuju
ketempat yang memang digunakan wisatawan untuk istirahat.
“tak sia-sia kita kesini.sangat elok kali
pemandangan disini”ucap Fahri.
“sebaiknya kita masuk ke kamar masing-masing
karena sangat lelah”ucap Isna.
“iya betul itu,ayo Isna”ajak Otoh
“kalian duluan saja.aku masih ingin disini”ucap
Putri.
“kenapa kau tak ikut mereka?”Tanya Fahri
bersamaan dengan menjauhnya Isna dan Otoh.
“aku mau jalan-jalan sebentar.oh ya,besok kau
sudah pulang ke Malaysia ya?”Tanya Putri
“iya,kenapa?apa kau tak ingin aku pergi”jawab Fahri
“tidaklah,sudah bosan menjadi guide orang
cerewet seperti kau.sudahlah,ayo kita jalan-jalan?”jawab Putri
“tapi kita mau kemana?”Tanya Fahri
“sudah ikuti saja aku”jawab Putri sambil menarik
tangan Fahri.
Putri pun memegang tangan Fahri dan menariknya
berjalan kearah pinggir sungai.Banyak orang yang juga menikmati pemandangan
menjelang senja di Mahakam di Muara Kaman.mereka pun berdiri juga disela-sela
kerumunan orang yang telah dari tadi memenuhi pinggir sungai tersebut.
“Putri,erat sekali kau memegang tanganku.apa
yang orang disamping kita lakukan?”Tanya Fahri sambil tersenyum
“oh aku lupa melepaskan tanganmu,mereka sedang
minum air dari Mahakam ini.”jawab Putri dengan pipi memerah
“pipimu Nampak merah,apa kau malu?apakah mereka
kehausan?”Tanya Fahri penasaran
“tidaklah,dan memang sebuah kebiasaan yang
katanya jika orang luar daerah minum air sungai itu maka ia akan kembali ke
Kalimantan lagi”jelas Putri
“kalau begitu ambilkan air itu untukku biar aku
kembali kesini lagi”perintah Fahri
“seperti Pangeran saja kau
memerintahku.kuberharap orang cerewet sepertimu tak kembali kesini”ucap Putri
“tapi biarpun aku kembali kesini tak akan ku mau
bertemu dengan gadis sinis macam kau”
“Dasar kau,ini airnya dan minumlah”
Malam pun menghampiri dengan derasnya hujan yang
turun sehingga menambah lelap istirahatnya mereka.Esok hari tiba, mereka
berempat telah meninggalkan tanah Muara Kaman dan telah sampai di Bandara
Sepinggan Balikpapan untuk mengantar Fahri kembali menuju ke tanah kelahirannya
Malaysia.
“aku titip salam untuk keluargamu.oh ya,dimana
Isna dan Otoh?”jawab Fahri
“mereka dimobil mungkin pusing karena mabuk
darat.aku punya sesuatu untukmu.ambillah!”ucap Putri sambil mengeluarkan
sesuatu dari tasnya.
“terima kasih,dan ini gantungan kunci dari giok
untukmu”ucap Fahri seraya melepas gantungan kunci di tasnya.
“iya,terima kasih ya.jangan lupakan setiap hal
tentang tanah Kalimantan ya”ucap Putri
“itu pasti,dan tentunya aku tak akan melupakan
kau sang Putri”ucap Fahri
“iya,Pangeran Negeri Seberang berangkatlah
pesawatmu sudah menunggu”jawab Putri
“baiklah,jaga dirimu baik-baik dan titip salam
buat Isna dan Otoh”jawab Fahri
Seiring anggukan sang Putri. Fahri pun telah
melangkah jauh menuju pesawat yang akan mengantarkannya ke Padang,tepat asalnya
yang telah seminggu lebih tak ia sapa.Putri berdiri pilu di dekat pintu untuk
keberangkatan Fahri.Tiba-tiba Fahri membalikkan badannya ketika ia sudah
menaiki tangga pesawat dan meneriakkan sesuatu pada Putri.
“semoga aku akan kembali datang dan menginjak
Kalimantan lagi untuk menemuimu Sang Putri”teriak Fahri
“Iya,aku menunggumu”jawab Putri sambil
tersenyum.
Itulah perpisahan Putri dan Fahri yang
menyisakan memori indah selama Fahri di Kalimantan.Di pesawat Fahri membuka
kado kuning kecil dari Putri,terlihat buku kuning yang didalamnya bertuliskan
untaian kata-kata indah serta gantungan untuk tas dari manik.
“Inilah perpisahan yang mesti dijalani
Seperti hilangnya cinta Ratu Aji Bidara Putih
Kepada Pangeran Negeri Seberang
Putri yang nan elok dan cantik menanti jiwanya
yang
Ditunggu untuk mendampingi disinggasana sepi
Yang merindukan bersandingnya Pangeran dan Putri
itu
Tapi,Sayang…
Apalah daya seorang Putri yang mengabaikan rasa
Cinta yang membuatnya menangis karena
Putri harus tegas demi cintanya yang tidak hanya
untuk dirinya
Tapi untuk rakyat dan kekuasaannya yang meronta
Untuk dlindungi olehnya….
Itulah takdir dimana Putri ditindas oleh
kesalahpahaman
Sehingga pupuslah harapan bersanding dengan
pangeran
Karena sirih telah menjadi lipan raksasa yang
melenyapkan
Sesosok cintanya dan tinggallah Danau Lipan
Menjadi sejarah cinta antara
Ratu Aji Bidara Putih dan Pangeran Negeri
Seberang….”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar